Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Strategi Kurangi Stres hingga Nyinyiran

Martda Vadetya • Minggu, 22 Juni 2025 | 15:25 WIB

 

Photo
Photo

Grid zero rupanya bukan sekadar tren. Fenomena ini dinilai sebagai cerminan kompleksitas Gen Z dalam mengelola identitas, ekspektasi sosial, hingga kesehatan mental di era digital. Hal ini sekaligus menjadi langkah proteksi diri dari kecemasan akibat aktivitas bermedia sosial.

 Hal ini diungkapkan Salis Khoiriyati, psikolog khusus perlindungan anak dan perempuan Mojokerto. Menurutnya, mengosongkan postingan feed IG menandakan adanya kontrol maupun penyegaran diri. Menghapus atau mengarsipkan postingan ini bisa diartikan sebagai clean slate atau penyegaran untuk memulai hal baru. ”Mungkin mereka mau mem-branding diri menjadi pribadi baru dari sebelumnya,” sebutnya.

 Tren ini, lanjut dia, didorong sejumlah aspek. Pertama, adanya kebutuhan akan otonomi diri sebagai kebutuhan dasar manusia. Sebab, Gen Z yang notabene bermurur awal 20 tahunan memasuki fase eskplorasi identitas. ”Jadi ada kecemasan eksistensial. Mereka eksis, tapi yang mereka eksiskan bukan diri mereka sendiri, cerminan saja. Ini masuk dalam pencarian jati diri remaja atau role confusion,” jelas Salis.

 Selain itu, adanya sikap perfeksionis maupun kecemasan sosial untuk menghapus jejak digital. Rasa kekhawatiran muncul terkait dampak ke depan dari adanya unggahan media sosial tersebut. ”Kalau konten lama dinilai ada yang tidak estetik atau tidak relevan, mereka memilih untuk menghapus atau menyembunyikan,” ungkapnya.

 Salis menyatakan, hal ini sekaligus sebagai strategi Gen Z untuk mengurangi stres dalam bermedia sosial. Khususnya bagi mereka yang mengalami social anxiety, body image issue, maupun tak mampu mencapai standar di media sosial. ”Gen Z cenderung perfeksionis. Ada kecemasan-kecemasan yang timbul dari situ, sehingga coping mechanism-nya mereka menghapus atau menyembunyikan konten itu,” paparnya.

 Menurutnya, fenomena ini sejalan dengan tren detoks digital untuk menjaga kesehatan mental di era yang semakin modern. Di mana peningkatan stres, depresi, dan FOMO semakin marak di kalangan pengguna media sosial. ”Grid zero bisa sebagai detoks digital yang terkesan elegan tanpa harus menghapus akun mereka. Juga lebih pada untuk melindungi diri hal-hal yang tidak diinginkan,” ulas Salis.

 Grid zero, lanjut dia, juga bisa dijadikan sebagai komunikasi simbolik. Pemilik akun memilih diam, tapi masih ada untuk berinteraksi di media sosial. ”Artinya mereka masih beraktivitas di akun tersebut dengan memberi like atau jadi silent reader. Mereka tidak melakukan aktivitas tapi menyimak (perkembangan),” bebernya.

 Menghapus atau menyembunyikan riwayat unggahan ini sekaligus sebagai upaya perlindungan diri secara psikologis dari kritik sosial atau nyinyiran.  Namun, menurut Salis, dimungkinkan adanya motivasi ekstrem yang mengindikasikan gejala kecemasan sosial atau depresi ringan. ”Kalau motivasinya untuk menarik diri dari interaksi sosial sepenuhnya, bisa terkategori depresi ringan,” tandasnya. (vad/ris)

 

 

 

 

 

 

Editor : Hendra Junaedi
#Stress #Grid zero #Kecemasan berlebih #Lifestyle #Gen Z #Kecemasan Berlebih Gen Z