Jawa Pos Radar Mojokerto – Dalam kemajuan peradaban, masih terdapat beberapa ketidaksetaraan gender yang dialami oleh laki-laki dan perempuan. Salah satu ketidaksetaraan antara laki-laki dengan perempuan adalah patriarki. Patriarki merupakan istilah di mana kedudukan seorang laki-laki jauh lebih tinggi dibandingkan perempuan.
Laki-laki yang memiliki sikap patriarki biasanya dominan dengan apa yang terjadi dalam sebuah hubungan. Budaya patriarki ini membuat laki-laki memiliki dominasi penuh atas apa yang terjadi dalam hubungan.
Baca Juga: Sering Merasa Canggung? Berikut Cara Mengatasi Rasa Canggung agar Terhindar dari Suasana Awkward
Karena kendali penuh tersebut membuat perempuan membatasi kebebasan berekspresi dan bertindak, membatasi pendidikan perempuan, dan keterbatasan lainnya. Maka dari itu, banyak perempuan yang menentang budaya patriarki.
Para perempuan merasa banyak dirugikan dengan adanya budaya patriarki. Selain itu, perempuan juga memiliki hak dan kedudukan yang sama, baik dalam dunia kerja, pendidikan, maupun keluarga.
Dalam artikel kali ini, kita akan menulis dampak buruk adanya budaya patriarki kepada perempuan.
1. Subordinasi
Subordinasi merupakan penomorduaan gender atau kata lainnya adalah mengedepankan laki-laki daripada perempuan. Contoh dari subordinasi adalah anggota keluarga yang selalu mengedepankan pendidikan anak laki-laki dibandingkan anak perempuan, dikarenakan lebih percaya bahwa laki-laki dapat mencari nafkah daripada perempuan.
Dampak seperti inilah yang dapat merugikan bagi wanita. Karena, baik laki-laki maupun perempuan seharusnya dapat menerima pendidikan dengan setara atau sama, tanpa ada yang membedakan.
2. Stereotipe
Baca Juga: Cagar Budaya SDN Purwotengah Kota Mojokerto Berpotensi Bermasalah
Stereotipe merupakan persepsi yang diyakini oleh sebagian individu dalam kehidupan bermasyarakat mengenai suatu tindakan berdasarkan karakteristik yang dikaitkan dengan kelompok yang bersangkutan. Salah satu bentuk stereotipe adalah perempuan pada akhirnya hanya bekerja di rumah atau sebagai ibu rumah tangga.
Kepercayaan tersebut membuat para perempuan kesulitan untuk mencari pekerjaan. Banyak yang beranggapan bahwa tugas laki-laki adalah mencari nafkah. Pandangan tersebut disalahartikan dengan menganggap penghasilan dan jerih payah di dunia pekerjaan perempuan hanyalah tambahan.
3. Marginalisasi Ekonomi
Baca Juga: Desa Ngarjo, Kecamatan Mojoanyar Masuk Tiga Besar Lomba Desa Tingkat Provinsi Jatim
Perbedaan kesetaraan gender membuat marginalisasi ekonomi berubah, contohnya adalah terjadi program Revolusi Hijau di masa Orde Baru. Program tersebut dibentuk hanya untuk memprioritaskan pelatihan pertanian untuk laki-laki dan mengabaikan petani perempuan.
Akibat dari perihal tersebut adalah petani perempuan sudah tidak dapat mengakses ladang dan lahan pertanian. Pekerjaan seperti pembantu rumah tangga dan guru TK dianggap rendag dan dibayar rendah, daripada pekerjaan yang dianggap sesuai dengan laki-laki.
4. Tanggung Jawab Ganda
Baca Juga: Manhole di Jalan Gajah Mada Raib dan Pecah
Salah satu dampak patriarki bagi perempuan adalah perempuan menjadi memiliki tanggung jawab ganda atau double. Karena, para laki-laki patriarki sering tidak melakukan pekerjaan atau aktivitas rumah. Para laki-laki patriarki beranggapan bahwa urusan rumah adalah kewajiban perempuan.
Akibat dari pemikiran tersebut adalah perempuan menanggung sebagian besar pekerjaan rumah tangga, bahkan hingga 90%. Perilaku seperti ini masih banyak dialami oleh wanita-wanita Indonesia, sehingga selagi wanita bekerja mereka mengasuh anak dan melakukan pekerjaan rumah lainnya.
5. Mengalami Kekerasan
Baca Juga: Covid-19 Tidak Termasuk Kejadian Luar Biasa
Akibat paling fatal yang diterima perempuan dari patriarki laki-laki adalah mengalami kekerasan. Kekerasan berbagai bentuk, mulai dari penghinaan atau dari mulut, secara fisik, hingga kekerasan seksual.
Pemerkosaan tersebutlah yang menjadi salah satu kekerasan yang disebabkan oleh hierarki dari konsep patriarki. Para pria patriarki beranggapan bahwa perempuan hanyalah pemuas nafsu dan perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki.
RENO
Editor : Imron Arlado