JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Penggunaan media sosial kini telah mengalami peningkatan. Beberapa orang merasa tak bisa terpisahkan dengan medsos, terutama Gen Z.
Berbagai platform seperti Instagram, TikTok, dan X memainkan peran dalam memberi ruang tanpa batas untuk berbagi, terhubung, dan berekspresi.
Jika kita rasakan, mulai pagi hingga malam kita seperti disuguhi dengan berbagai unggahan yang memperlihatkan kehidupan orang lain.
Bahkan tanpa sadar, kita secara langsung terhubung dengan kehidupan orang lain mulai dari kesuksesan, penampilan, perjalanan mewah, kebahagiaan, bahkan beberapa pencapaian orang lain yang kerap kali dipamerkan di media sosial.
Tanpa disadari, fenomena ini semakin mengkhawatirkan karena bisa menyebabkan banyak Gen Z merasa insecure atau tidak yakin dengan diri sendiri. Mereka terus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain.
Semakin besar rasa insecure pada diri sendiri akan melahirkan buda perbandingan atau lebih dikenal dengan istilah comparison culture.
“Budaya perbandingan sebagai fenomena sosial di mana individu terbiasa terlibat dalam praktik mengukur diri mereka sendiri, pencapaian, harta benda, dan keadaan hidup mereka secara terus-menerus terhadap orang lain,” Andrea Miller, 2023.
Bagi Generasi Z yang sering kali terpapar media sosial dengan berbagai konten-konten yang memperlihatkan kehidupan teman sebaya, influencer, atau bahkan kehidupan orang asing yang seolah-olah memiliki segalanya.
Baca Juga: Mengejar Cinta yang Hilang Ke Korea, Film Sampai Jumpa, Selamat Tinggal Hadir di Layar Lebar
Nyatanya, tidak semua yang ditampilkan pada media sosial itu bentuk dari realitas kehidupan sehari-harinya. Seringkali yang dibagikan hanyalah puncak gunung es, hasil editan, atau bahkan momen-momen pilihan yang menurut mereka membahagiakan.
Tanda-Tanda Comparison Culture Merenggut Mental Gen Z
1. Kecemasan yang Meningkat dan Depresi
Jika kamu terdampak comparison culture, kamu akan merasa tidak cukup baik atau merasa tertinggal dari orang lain. Sehingga nantinya akan memicu stres, kecemasan, dan bahkan depresi.
2. Rasa Percaya Diri yang Menurun
Membanding diri dengan orang lain secara terus menerus akan membuat rasa percaya diri yang menurun. Ini nantinya bisa mempengaruhi beberapa aspek pada kehidupanmu, mulai dari performa akademik hingga interaksi sosial.
3. Fear of Missing Out (FOMO) yang Parah
Kamu akan merasa takut ketinggalan jika melihat orang lain yang terus-menerus. Ini akan mendorong kamu untuk terus mengecek media sosial dan mengikuti tren, sehingga berdampak pada siklus yang tidak sehat.
4. Sulit Bersyukur
Adanya budaya perbandingan akan membuat kamu merasa kurang dan hanya berfokus pada apa yang dimiliki orang lain. Sehingga kamu lupa untuk menghargai diri sendiri dan lupa untuk bersyukur atas apa yang sudah kamu miliki dan kamu capai hari ini.
Fenomena ini tentu menjadi tantangan nyata bagi kesehatan mental Gen Z di era digital. Dengan mengenali tanda-tanda comparison culture akan menjadi langkah aktif untuk melindungi diri dan membangu mental yang lebih kuat.
Editor : Imron Arlado