SEMENTARA itu, banyak orang berpendapat jika ingin memiliki motor gede (moge) seperti Harley Davidson, harus bisa berpikir hingga beberapa kali. Selain harga belinya yang tidak murah, perawatannya juga cukup susah. Bahkan, perlu treatment dan mekanik khusus agar motor yang ditunggangi melaju mulus tanpa hambatan.
Namun, bagi teknis Harley Davidson, Hadi Usman, anggapan tersebut tak sepenuhnya benar. Meski berkubikasi besar, namun perawatan HD tak jauh beda dengan motor pada umumnya. Penggantian oli hingga tune-up rutin merupakan cara lazim yang harus dilakoni para pemilik HD sesuai penggunaannya.
’’Misalnya, harley jenis touring, biasanya ganti oli ketika penggunaannya sudah mencapai 3 ribu sampai 4 ribu kilometer (km). Yang diganti ada oli mesin, oli transmisi, dan oli primet. Dengan asumsi tune-up rutin 6 sampai 8 bulan sekali,’’ ujar pria asal Desa Awang-Awang, Kecamatan Mojosari, ini.
Pun dengan penggunaannya, HD tak perlu dipanasi setiap hari. Motor dengan suara menggelegar ini hanya cukup dipanasi antara 2 sampai 3 kali dalam sepekan. Durasinya cukup 20 sampai 30 menit dengan berkeliling kompleks atau sekadar dipanasi di tempat. ’’Pemilik HD kan orang sibuk, jadi pemakaiannya maksimal 3 kali seminggu. Akinya juga wajib di-charge agar tidak nge-drop,’’ tambahnya.
Pria 38 tahun ini menegaskan, perawatan intens hanya diperlukan saat menjelang riding dengan jarak tempuh lebih dari 100 km. Di mana, setiap part motor wajib dicek kesiapannya. Mulai dari tekanan ban, suspensi mesin, kampas dan minyak rem, hingga radiator yang harus dalam kondisi prima.
Sebab, mesin HD kerap overheat jika dipakai dalam tempo lama dan kecepatan kencang. Bahkan, Hadi menyarankan agar setiap kelompok harley wajib membawa beberapa spare part cadangan dan teknisi khusus agar motor bisa langsung dibenahi saat terjadi trouble di jalan. ’’Kalau bisa juga membawa towing agar motor bisa langsung diangkut ketika ada yang rusak,’’ tandasnya. (far/ris)
Editor : Hendra Junaedi