RADAR MOJOKERTO - Siapa yang kerap bangun tengah malam untuk belajar? Jika menjadi salah satunya, maka sebenarnya bangun tengah malam kurang efektif loh jika ingin belajar.
Bangun tengah malam pukul 01.00-04.00 bagi beberapa orang memang sudah biasa dilakukan. Namun, menurut berbagai sumber, bangun dini hari untuk belajar kurang disarankan.
Sebab pada jam-jam tersebut, badan akan memproduksi hormon melatonin yang mengatur siklus tidur dan bangun dan hormon ini diproduksi oleh otak, tepatnya kelenjar pineal.
Idealnya, hormon melatonin akan diproduksi saat malam hari dimana otak akan mengirimkan sinyal kepada tubuh untuk istirahat dengan tidur.
Walaupun ketika tubuh beristirahat, otak tidak pernah benar-benar ikut tertidur bahkan saat sudah terlelap. Jika memaksakan bangun dan belajar pada jam-jam tersebut, terkadang saat pagi atau siang tubuh akan terasa lebih lelah saat beraktivitas.
Lain hal jika seseorang sudah terbiasa, sebenarnya ini tidak jadi masalah besar. Metode belajar dini hari mungkin cocok untuk orang-orang yang senang belajar dengan suasana yang damai, sunyi, dan tidak mendapati banyak gangguan seperti ketika belajar siang hari.
Namun, jika dini hari bukan waktu tepat, lantas kapan waktu yang efektif dan efisien bagi otak untuk belajar? Simak penjelasan berikut tentang jam efektif untuk belajar maupun bekerja.
Pagi Hari (06.00-09.00)
Waktu belajar di pagi hari dinobatkan sebagai waktu terbaik bagi otak untuk belajar. Biasanya di jam pagi, tekanan darah sedang tinggi sehingga tidak heran jika pada pagi hari energi dan semangat masih penuh. Tubuh pada jam-jam pagi juga masih fresh untuk memulai hari sebab sebelumnya sudah tidur dengan cukup.
Jam pagi hari cocok untuk diisi dengan berbagai kegiatan yang memerlukan fokus dan ketelitian yang tinggi namun tetap santai. Sinar matahari pada pagi hari juga diketahui membantu mengatur jam biologis tubuh sehingga tubuh juga akan semangat untuk memulai hari.
Siang Hari (11.00-14.00)
Saat siang hari, otak akan lebih mudah terfokus pada pembelajaran dan mengerjakan tugas-tugas penting yang lumayan berat juga menguras energi. Mengapa itu terjadi? Sebab pada siang hari, hormon kortisol atau hormon stres mulai bekerja.
Kerja hormon kortisol pada siang hari cukup efektif guna mempelajari materi yang membutuhkan konsentrasi dan analisa tinggi.
Selain itu, kreativitas pada jam-jam siang hari juga akan meningkat. Namun jika tidur malam belum cukup, siang hari akan terasa begitu melelahkan dan malah jadi sering mengantuk.
Sore Hari (15.00-17.00)
Saat sore datang, tubuh dan otak sudah dalam fase lelah karena telah menjalani aktivitas sepanjang hari. Kadar serotonin yang mengatur fungsi tubuh seperti pencernaan dan suasana hati saat sore hari mulai memudar.
Sore hari bukanlah waktu tepat untuk belajar. Lakukan hal yang membuat tubuh lebih rileks seperti beristirahat sejenak, membaca buku atau berbincang bersama teman dan keluarga.
Kadar melatonin dalam tubuh juga masih rendah pada jam-jam tersebut. Namun pada jam ini tentunya belajar masih bisa dilakukan meski hanya dengan tugas atau aktivitas yang lebih ringan.
Malam Hari (18.00-21.00)
Pada pukul 18.00-21.00 merupakan waktu tepat untuk mengingat ulang atau recall materi yang telah dipelajari sebelumnya.
Otak biasanya masih mengingat materi-materi yang telah diajarkan saat pagi dan siang, sehingga waktu ini juga cocok dipakai untuk mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah yang diberikan.
Saat belajar malam hari, wajar saja jika timbul rasa kantuk. Hal ini bisa diakibatkan oleh hormon melatonin yang mulai diproduksi. Jadi jangan memaksa untuk tetap belajar, pastikan tidur dengan waktu cukup agar kondisi tetap maksimal saat menjalani aktivitas keesokan hari.
Baca Juga: Jangan Asal Pakai! Ketahui Perbedaan Cleansing Balm dan Cleansing Oil Demi Kebaikan Kulitmu
Jam tidur dan jam belajar memanglah bukan hal mutlak atau semacam aturan yang harus dilakukan secara sama oleh semua orang.
Jam tidur dan belajar disesuaikan dengan kondisi masing-masing dan mungkin akan berbeda pada setiap orang. Namun, jam-jam belajar di atas dapat digunakan sebagai acuan apabila masih kebingungan terkait waktu belajar efektif bagi otak dan tubuh.
Editor : Imron Arlado