Sepatu menjadi salah satu fesyen item yang trennya selalu berkembang dari waktu ke waktu. Inovasi dari alas kaki satu ini pun seringkali ada yang baru. Salah satunya, sepatu dari bahan limbah. Selain membuat penggunanya tetap tampil gaya, sepatu-sepatu ramah lingkungan ini relatif awet untuk dipakai sehari-hari.
Seperti karya Moch. Baihaqi Aril Rahmadani, siswa kelas XI IPA SMAN I Bangsal, Kabupaten Mojokerto. Ia mampu mengolah limbah sabut kelapa menjadi beragam model sepatu kekinian. Mulai dari sneakers, sport, hingga boots. ”Awalnya dari lihat banyak limbah sabut kelapa di pasar dan pedagang es degan. Besarnya potensi bahan (sabut kelapa) ini, muncullah keinginan mengolahnya jadi sepatu bernilai ekonomi tinggi,” terang remaja 16 tahun tersebut.
Setelah melalui serangkaian proses pengolahan, lanjut Aril, lembaran sabut kelapa yang sudah seperti kain tersebut dirancang untuk dikombinasikan dengan bahan lain. Baik dengan kulit di bagian upper-nya, dijahit dengan outsol, insol, hingga ditambahi beragam aksesori. Pemakainya akan merasa nyaman lantaran bagian dalam upper dilapisi spon dari bawah hingga atas. ”Salah satunya, (sabut kelapa) kita coating dengan lateks. Jadi, tahan percikan air atau api,” urai pelajar yang membuat sepatu secara otodidak ini.
Menurutnya, sepatu ramah lingkungan ini bisa awet hingga 5 tahun. Sebab, setiap alas kaki karyanya itu telah melalui proses uji ketahanan. ”Kalau untuk jenis sneakers yang dipakai harian itu bisa tahan sekitar dua tahun. Kalau yang boots kan tidak dipakai setiap hari. Jadi bisa awet sampai 5 tahunan,” beber remaja asal Desa Ngastemi ini. Soal tampilan, sepatu ramah lingkungan ini tak kalah apik dengan sepatu konvensional berbahan canvas, suede, maupun kulit. Terumata, tampilan tekstur dan warna khas sabut kelapa yang tidak dimiliki bahan lain.
Aril memadukan bahan sabut dengan kulit asli pada bagian upper sepatu. Ditambah dengan sentuhan aksesori dan corak khas Majapahitan dari jahitan kulit berbentuk bunga maja hingga gapura Wringin Lawang membuat tampilan sepatu karyanya makin ciamik. ”Untuk sepatu boots ini ditambahkan aksen anyaman di bagian depannya buat menambah kesan estetisnya,” katanya.
Aril menyebut, sepatu sneakers sabut kelapa membuat pemakainya stylish, meski digunakan sehari-sehari maupun aktivitas kasual, seperti kongkow bareng teman. ”Kalau yang boots cocoknya buat acara tertentu. Seperti fashion show atau motoran. Ini unisex (bisa dipakai pria dan wanita). Jadi, kesan maskulin dan feminimnya lebih keluar,” tandasnya.
Sepatu kreasi Aril ini menjuarai Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) 2024. Karyanya mengantarkan Aril sebagai juara 1, baik dari tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional dengan penilaian yang ketat.
Spirit yang sama diusung Lia Nirawati. Ide kreatifnya muncul berawal dari gagasan sesama pecinta lingkungan yang resah akan limbah fesyen. Utamanya kain jeans. Limbah-limbah kain tersebut disulap menjadi beragam sepatu sneakers. Termasuk item fesyen lainnya, seperti topi dan tas. ”Dari situ kita sharing-sharing dan survei ternyata limbah denim bisa dibuat macam-macam. Salah satunya sepatu,” ungkapnya.
Hingga kini ia konsisten menelurkan produk fesyen tersebut di galeri upject.id yang ada di Desa Kepuhanyar, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto sejak 2021. Limbah busana denim yang sebelumnya tidak berharga, ia olah jadi fesyen item bernilai ekonomi tinggi. ”Prinsipnya, bisnis harus peduli lingkungan,” tandas Lia. (vad/ris)
Editor : Hendra Junaedi