Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Kreasi Seni Tari Bedaya Putri Mojosakti Mengisahkan Putri Kerajaan

Indah Oceananda • Minggu, 22 September 2024 | 12:50 WIB
Photo
Photo

Kesenian tari tradisional perlahan mulai menyentuh hati generasi kekinian. Mereka terpesona dengan setiap gerakan dan kemewahan busana yang dikenakan sang penari. Menyimpan makna mendalam sekaligus menyampaikan pesan histori budaya dan sejarah.

Di antara tarian yang sedang diganderungi kalangan remaja adalah tari Bedaya Putri Mojosakti. Tari kreasi tersebut lahir karena terinspirasi tari Bedaya. Tari tradisional klasik Jawa yang lahir di era Kerajaan Mataram.


Keberadaan dan konsisten pengembangan tari kreasi Bedaya Putri Mojosakti tersebut tak lain berkat sentuhan karya penari asal Kabupaten Mojokerto, Erlis Yulia Susanti.

”Nuansanya sama seperti bedaya asli, tetapi bukan sebagai tari klasik lagi. Melainkan tari kreasi baru, karena tidak lepas dari sentuhan industri pariwisata. Maka, pengemasannya disesuaikan dengan pariwisata,” terangnya.

Erlis, begitu Erlis Yulia Susanti akrab disapa menuturkan, tari Bedaya Putri Mojosakti memang berbeda dengan tari Bedaya asli. Sebab, penciptaan tari Bedaya murni dilahirkan secara klasik dari sejarah panjang Kerajaan Mataram.

Di zaman itu, tari ini biasa dihadirkan khusus untuk menyambut raja-raja terdahulu. Bahkan, dalam menampilkan tarian tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Untuk memperagakan tari Bedaya, sang penari harus dalam keadaan suci dan melakukan ritual-ritual tertentu.

Sedangkan tari Bedaya Putri Mojosakti, terang Erlis, merupakan hasil kreasi baru yang diciptakan di era kekinian.

Sehingga siapa pun dapat menarikan sekaligus mendalami secara kreatif, sebagai bentuk rasa cinta dan melestarikan kesenian. ”Keberadaan tari Bedaya Putri Mojosakti ini biasa digunakan untuk menyambut tamu resmi maupun tamu di event-event tertentu,” kata perempuan asal Dawarblandong ini.

Dia menceritakan, awal lahirnya tari Bedaya Putri Mojosakti semula berangkat dari ajang festival tari Bedaya yang digelar Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Mojokerto.

Setelah meraih juara pertama, tari ini lantas diusulkan disbudporapar ke Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) pada tahun 2023.

Tari ini pun berhasil memecahkan rekor MURI karena diikuti dan diperagakan 509 penari dari kalangan pelajar, dalam waktu dan tempat yang sama.

”Alunan musiknya masih menggunakan instrumen gamelan, tetapi bukan garapan. Kemudian di event festival tari bedaya selanjutnya kami garap dari ide, gagasan, musik sampai koreografinya. Jadi, itu murni garapan dari kami,” tambahnya.

Tidak heran, jika dalam pengembangan kreasinya, Erlis dinilai sukses membawa tari tersebut lebih dikenal oleh masyarakat luas.

Dia menuturkan, filosofi dari tari Bedaya Putri Mojosakti merupakan tari kreasi baru yang diadaptasi dari tari Bedaya. Di setiap gerakan dan koreo mengandung cerita tentang putri-putri Kerajaan Majapahit.

 

”Di balik sosok wanita anggun selalu terdapat spirit berbentuk pikiran dan perkataan yang berpengaruh pada Kerajaan Majapahit pada masa itu,” urainya.

Nah, spirit dari seorang wanita itulah kemudian tertuang dalam tari Bedaya Putri Mojosakti yang dikreasikan Erlis. Mengenai motif dan pose gerak tangan pada tari ini, Erlis mengaku terinspirasi dari bentuk koleksi sebuah arca di Museum Pusat Informasi Majapahit (PIM) di Trowulan.

”Dari putri-putri bentuk arca tersebut terdapat motif gerakan pada tangan. Ini yang menginpirasi lahirnya tari Bedaya Putri Mojosaksi,” tandas guru tari di SMAN 1 Dawarblandong ini.

Di antara remaja yang mengganderungi tari Bedaya Putri Mojosaksi itu adalah Areta Lutfi Nadhifah. Bahkan, dia sudah mempelajari seni tari Bedaya Putri Mojosakti sejak usia taman kanak-kanak (TM).

Menurut Areta, tarian ini lebih mengedepankan gerakan yang simpel, lambat, dan lemah gemulai. Sehingga dibutuhkan postur tubuh dari seorang penari yang lentur agar dapat menyesuaikan tempo di setiap gerakan. Karenanya, koreo maupun gerakannya dinilai sangat pas bagi pemula atau pelajar. ”Sebab, gerakannya sangat sederhana,” jelas dia.

Namun, selama belajar mendalami tarian ini, Areta membutuhkan waktu setidaknya selama satu bulan untuk mempelajari keserasian gerakan.

”Memang, kekompakan dan keserasian gerakan perlu dilatih dalam membawakan tari modifikasi ini, agar hasilnya tampak lebih indah,” tukasnya.

Berkat keseriusan di dunia tari ini, siswa kelas XI SMA Negeri 1 Puri, Kabupaten Mojokerto tersebut bahkan berhasil membawakan tari Bedaya Putri Mojosakti tersebut di beberapa event bergengsi.

Seperti Majafest, Penutupan Pekan Olahraga Provinsi Jatim, dan Mojo Batik Festival yang digelar Pemkab Mojokerto. (oce/ris)

 

Editor : Hendra Junaedi
#tari #Putri Kerajaan #life style