Permainan papan atau yang populer dengan istilah board game kini tak hanya jenis ular tangga dan monopoli.
Aneka wujud gim di atas meja ini rupanya terus berkembang dengan tingkat kesulitan dan keseruannya masing-masing.
Dari mengisi waktu luang, penikmat board game memetik pelajaran penting untuk kehidupan sehari-hari.
Tiga lelaki meriung di ruang berpendingin salah satu kafe di Jalan Kedungsari, Kelurahan Gunung Gedangan, Kota Mojokerto, Jumat (12/7) malam.
Beberapa bidang papan permainan berbahan plastik menghampar di atas dua meja yang dijadikan satu. Tangan-tangan mereka cekatan mengambil, memindah, dan menaruh keping berbentuk jajar genjang.
Komponen itu kemudian disusun di papan khusus pemain yang terletak di hadapan masing-masing.
Malam itu, ketiganya yang tergabung dalam Komunitas Mojokerto Board Game tengah bermain board game azul.
Permainan papan jenis ini sarat akan strategi, karena menuntut pemain mengumpulkan keping, agar bidaknya bisa mencapai atau setidaknya mendekati angka tertinggi: 100.
Tak berselang lama, empat anggota komunitas juga tiba. Mereka langsung menggelar ”lapak” di meja sebelah untuk membuka permainan kartu.
Gelak tawa sesekali menyelinap dari pemain yang berhasil menyusun keping azul, memecah hening dua lainnya yang hanyut dalam konsentrasi.
Tak terhitung berapa kali tangan Bayu Jagat Adiguna, 32, meraih minuman kekinian pesanannya sepanjang permainan yang baru tuntas lebih dari setengah jam ini.
”Tingkat kesulitan azul ini termasuk medium,” kata Jagat, pendiri sekaligus ketua komunitas tersebut.
Baca Juga: Sekolah Mulai Sambut Tahun Ajaran Baru, Pastikan Tak Ada Perpeloncoan
Selain azul, masih banyak jenis board game lain yang dimainkan. Di antaranya adalah barrage serta bohnanza yang berbentuk card game alias permainan kartu.
Tak hanya mengandalkan strategi, karakter gim juga meliputi bermain peran, adu kecerdasan, hingga konsep investasi dan menabung.
Menurut Jagat, dibutuhkan waktu hingga empat jam untuk menyelesaikan sekali permainan board game level berat. ”Untuk tipe ringan, permainan cukup belasan menit,” imbuh warga Desa Mlirip, Kecamatan Jetis, yang sudah punya satu anak itu.
Nugroho Alif, 20, satu di antara 20 anggota komunitas ini mengaku sejak kecil akrab dengan permainan uno dan monopoli.
Hobi itu membawa remaja asal Desa Bagusan, Kecamatan Gedeg tersebut bergabung dengan Komunitas Mojokerto Board Game sejak beberapa bulan terakhir. Keseruan ia dapat dari mengumpulkan poin hingga menjatuhkan lawan. ”Bikin ketawa-ketawa,” ujar mahasiswa jurusan biologi di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu.
Sebagaimana Nugroho yang bermain board game untuk mengisi waktu luang kuliahnya, Arifan Permata, 24, pun demikian.
Tapi, bagi pegawai honorer Pemkab Mojokerto asal Desa/Kecamatan Sooko itu, board game tak sekadar permainan papan di atas meja.
Akan tetapi mengajarkan tentang manajemen diri yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
”Orang melihatnya cuma diam hadap meja, sudah. Padahal, lebih dari itu,” ucap pemuda yang sudah setahun lebih rutin bermain bersama komunitas tersebut. (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi