Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Tidak Kapok meski Pernah Alami Kecelakaan, Bahkan Rogoh Kocek hingga Rp 9 Juta demi Reptil

Moch. Chariris • Jumat, 16 Februari 2024 | 04:22 WIB

 

TAK BIASA: Yoseph Rinadi bersama ular piton piaraannya di Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. (foto: Satria Putra for Radar Mojokerto)
TAK BIASA: Yoseph Rinadi bersama ular piton piaraannya di Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. (foto: Satria Putra for Radar Mojokerto)

RADARMOJOKERTO - Hewan reptil, seperti ular, buaya, hingga biawak kerap dianggap mengerikan karena sifat yang agresifnya.

Mulai dari bisa hingga taring tajamnya menjadi momok tersendiri bagi sebagian masyarakat.

LANGKA: Satria Putra, siswa asal Kota Mojokerto memegang iguana albino berusia satu tahun peliharaan Yoseph Rinadi di Desa Canggu, Kecamatan Jetis. (foto: Wilda Mifta for Radar Mojokerto)
LANGKA: Satria Putra, siswa asal Kota Mojokerto memegang iguana albino berusia satu tahun peliharaan Yoseph Rinadi di Desa Canggu, Kecamatan Jetis. (foto: Wilda Mifta for Radar Mojokerto)

Kendati demikian, saat ini tak jarang hewan reptil ditangkarkan hingga menjadi objek hobi bagi para pecintanya.

Salah satunya Yoseph Rinadi, 37. Pria asal Palembang ini memiliki hobi ekstrem memelihara sejumlah hewan liar jenis reptil di rumahnya, di Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

Hewan tersebut antara lain, ular, iguana, dan kura-kura.

Yoseph mengaku bahwa kegemarannya terhadap hewan reptil sudah tumbuh sedari kecil.

Hal itu membawa Yoseph untuk tergabung dalam komunitas pecinta reptil di Mojokerto.

”Memang suka semua jenis hewan, baik mamalia maupun reptil. Tetapi keduanya tidak bisa disandingkan, jadi saat ini hanya fokus ke reptil,” paparnya, Kamis (15/2).

Hewan-hewan peliharaan Yoseph berasal dari hasil breeding atau pembibitan oleh anggota komunitas, yang dipatok dengan harga bervariatif.

Seperti ular piton dihargai sebesar Rp 300 ribu, kura-kura sulcata Afrika Rp 1,5 juta, dan iguana langka jenis albino sebesar Rp 9 juta.

”Terkadang juga pelihara dari hasil hunting di daerah rimbun semak. Umumnya dapat ular venomous seperti kobra dan luwuk,” imbuhnya.

Perawatan reptil peliharaan Yoseph pun berbeda. Pasalnya, ular piton sepanjang 1,5 meter diberi makan daging mamalia kelinci hingga tikus. 

Sedangkan iguana dan kura-kura tiap harinya diberi berbagai jenis buah dan sayur.

Yoseph mengaku bahwa ia dapat menghabiskan Rp 200 ribu per minggu untuk membeli pakan reptil piaraan.

Sedangkan untuk menjaga kesehatan psikologis reptil yang dimiliki, Yoseph kerap melepaskannya dari dalam sangkar untuk sekadar berkeliaran dan bertengger di pagar balkon.

Yoseph menuturkan, untuk mencapai tahap memelihara hewan reptil diperlukan kesabaran dan pengetahuan memadai. 

Menurutnya, proses mempelajari hewan vertebrata tersebut tidak selalu mulus. Kesalahan teknis seperti memilih snake hook yang berujung pada kecelakaan pernah dialaminya.

Namun, hal tersebut tidak mematahkan semangat Yoseph untuk memelihara reptil. ”Tidak pernah kapok, sama seperti cat lovers yang dicakar kucing,” ungkapnya.

Pecinta reptil berasal dari berbagai kalangan dan terus berkembang hingga sekarang.

Komunitas yang saat ini diikuti Yoseph memiliki sekitar 70 anggota pecinta reptil. Mereka kerap mengadakan gathering untuk bertukar ilmu mengenai reptil.

Baca Juga: Hujan Deras, Tenda TPS di Kota Mojokerto Ambruk, Tempat Perhitungan Terpaksa Dipindah

Penyuluhan ke berbagai sekolah hingga melakukan rescue ketika terdapat hewan reptil liar memasuki pemukiman warga.

”Peminat reptil kian bertambah. Terlebih, banyak orang yang bisa memanfaatkan hobi pelihara reptil menjadi ladang cuan,” pungkasnya.  (wilda mifta)

Editor : Moch. Chariris
#ular #piton #Hobi #reptil