Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Menyeret Imaji Tempo Dulu

Fendy Hermansyah • Minggu, 2 Juli 2023 | 14:00 WIB

 

LANGKA: Eko Purnomo mengkoleksi proyektor layar tancap yang kerap digunakan memutar film pada era tahun 1970-an.
LANGKA: Eko Purnomo mengkoleksi proyektor layar tancap yang kerap digunakan memutar film pada era tahun 1970-an.
Sebelum bioskop modern dan layanan streaming film semakin menjamur seperti saat ini, layar tancap atau bioskop keliling sempat berjaya pada masanya. Teknologi proyektor analog yang pernah berkembang pesat di periode tahun 1970 sampai 1990-an kini sudah makin tergerus era digitalisasi. Karena punya ciri khas dan nilai historis tersendiri, kini proyektor retro tersebut menjadi barang koleksi yang tak tergantikan.

SEPERTI yang diakui Eko Purnomo. Baginya, perkembangan bioskop modern seperti Cineplex 21 maupun CGV Cinemas tak sedikit pun mengurangi kegemarannya akan proyektor analog. Menurut pria 45 tahun ini, ada sejumlah hal yang tak bisa didapatkan selain dari proyektor jaman dulu (jadul) tersebut. Yakni, kesan gambar buram maupun kualitas suara noise yang dimunculkan mesin proyektor yang semakin memperkuat kesan retro. Terutama, kenangan semasa kecilnya yang langsung kesengsem sejak kali pertama mengenal proyektor layar tancap.

’’Kenal proyektor analog ini sekitar tahun 1990-an, waktu nonton layar tancap di desa. Dari situ mulai suka sampai sekarang. Terutama itu kesan gambar burek atau hujan gerimisnya, suara kemeresek-nya, dan kenangannya waktu itu juga,’’ ungkap warga Dusun Pelem, Desa Temon, Kecamatan Trowulan ini.

Tak pelak, hobi yang makin diseriusi Eko sejak sekitar dua tahun lalu ini membuatnya memiliki dua unit proyektor jadul. Kedua barang retro itu punya seri yang sama, yakni Xenon 104 terbitan tahun 1990-an.

Menurutnya, kedua peranti itu merupakan senjata andalan para pengusaha layar tancap kala itu. ’’Jadi kenangan masa kecil waktu nonton layar tancap rame-rame itu yang tidak bisa diganti. Waktu itu lapangan desa ditutup dikelilingi gedek lalu beli tiket layar tancapnya Rp 300-500 rupiah sudah bisa nonton 2 atau 3 film. Itu jadi hiburan warga desa karen mau nonton bioskop ke kota juga jauh,’’ urainya.

Kini, ia memiliki lima koleksi kaset film berbasis pita yang disebut Betamax ataupun VHS. Yang saat ini keberadaannya kian langka lantaran jadi rebutan para kolektor. Yang harganya dibanderol Rp 600 ribu hingga Rp 3 juta per kaset film.

Eko menuturkan, ada kendala selain minimnya koleksi kaset film bagi para pengguna sekaligus kolektor layar tancap tersebut. Yakni ketersediaan sparepart saat proyektor tengah rusak. Apalagi, harganya yang terbilang tidak murah. ’’Karena barang tua, sparepart-nya ya gampang-gampang susah. Apalagi harganya, seperti lensa itu saja bisa sampai Rp 6 juta. Padahal harga proyektor ini saja saya dapat Rp 5 juta,’’ bebernya.

Dengan menghidupkan layar tancap sebulan dua kali di ruang tamu rumahnya, lanjut Eko, ada kepuasan tersendiri yang tidak didapat dari hobi lain. Terlebih, menurutnya, tren layar tancap atau bioskop keliling di Mojokerto Raya telah hilang tergerus era digital. ’’Tentu ada kepuasaan tersendiri. Terutama, menghadirkan kenangan masa lalu itu yang bikin kita makin cinta. Apalagi film-film layar tancap ini juga ada seni tersendiri juga,’’ tukasnya. (vad/fen)

 

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
#Majapahit #Tancap #vintage #retro #layar #kamera #kolektor #Lifestyle #analog #koleksi #mojokerto