BERBEDA dengan akuarium biasa, aquascape lebih dari sekadar memelihara ikan di akuarium. Aquascape merupakan seni mengatur tanaman, air, batu, karang, kayu hingga beberapa makhluk air lainnya dalam media kaca, akrilik ataupun media lainnya serupa akuarium.
’’Aquascape itu seperti kita memelihara makhluk hidup di dalam ekosistem tertutup, sehingga kita harus bisa mencukupi kebutuhan makhluk yang kita gunakan didalamnya,’’ ujar salah satu penghobi aquascape, Ekak Surahman Yuga.
Ekak, sapaan akrabnya, menuturkan mulai menggeluti hobi tersebut sejak 2017 lalu. Dia mulai tertarik membuat aquascape karena terpengaruh dari video dari YouTube. Kebetulan, dari kecil ia juga memang suka dengan fauna air. ’’Waktu itu belum banyak yang tahu, baru booming-nya aquascape ya gara-gara korona itu,’’ bebernya.
Bermodalkan Rp 450 ribu, Ekak mulai bereksperimen menciptakan aquascape buatannya. Dia jadi rutin mem-browsing cara perawatan serta pembuatan aquascape dengan berbagai style. Baru di tahun 2019 lalu, ia mulai berani menjual aquascape buatannya ke pasaran. ’’Cukup lama belajarnya. Dan Alhamdulillah di tahun 2019 mulai berani jual karena waktu itu juga sudah ngetren,’’ papar pria yang juga berbisnis akuarium di Jalan Wijaya Kusuma, Kecamatan Sooko ini.
Disinggung terkait teknis perawatannya, pria 31 tahun ini menuturkan perawatan satu aquascape dengan lainnya bisa jadi berbeda. Tergantung dari tanaman dan jenis ikan yang menghuni aquascape itu snediri. Sebab, masing-masing jenis ikan dan tanaman memiliki sifat yang berbeda. ’’Setiap tanaman berbeda perawatannya. Ada yang mudah, ada yang harus khusus perlakuannya seperti Rotalla sp. yang memerlukan pencahayaan yang lebih intensif dan juga injeksi karbondioksida ke akuarium. Ini juga berlaku pada ikan. Ada yang simpel seperti jenis neon tetra, ada juga yang cukup sulit dan sensitif seperti discus,’’ tutur Ekak.
Warga Kecamatan Puri ini menambahkan, dalam merawat aquascape yang terpenting adalah jadwal penggantian air. Sebab, itu untuk mencegah agar aquascape tidak gampang ditumbuhi alga. Selain itu, trimming atau pemangkasan juga wajib dilakukan secara berkala agar penampakan aquascape lebih terjaga. ’’Untuk masalah pembersihannya, aquascape harus rutin dibersihkan dalam satu atau dua kali seminggu. Tapi, untuk pembersihannya, jangan sampai air dikuras 100 persen, kurang lebih sisakan sekitar 30-50 persen dari volume air,’’ terangnya.
Lebih lanjut, pihaknya menambahkan, dalam pembangunan aquascape, pada dasarnya seluruh komponen penunjang memiliki peranan yang penting. Namun, ada beberapa komponen yang harus diperhatikan penghobi saat mengembangkan aquascape. Seperti lampu, pupuk dan filter merupakan yang terpenting. ’’Lampu juga berpengaruh pada tanaman soalnya. Maksimal 12 jam diterangi sudah cukup, jangan lebih dari itu,’’ ucapnya.
Berkat hobi yang ditekuni selama lima tahun ini, Ekak mengaku sudah bisa meraup keuntungan yang lumayan berkat penjualan aquascape. Banyak pesanan dari pembeli yang sudah digarapnya dengan berbagai macam ukuran. Mulai dari ukuran paling kecil hingga besar. ’’Paling murah sih pernah buat ukuran 30 centimeter, itu laku Rp 600 ribu. Paling mahal ada yang sampai Rp 3 juta. Kalau sekarang agak turun minatnya, sudah gak sebanding saat masih ada pembatasan akibat Covid-19,’’ tandasnya. (oce/fen)
Editor : Fendy Hermansyah