Kompleks bangunan bekas pabrik yang menempati lahan seluas tujuh hektare tersebut sudah berumur lebih seabad. Di beberapa bagian bangunan tertulis angka tahun 1901 dan 1913. Tahun yang diyakini sebagai awal pendirian pabrik yang berada di tepi Jalan Raya Dusun Sidogede itu.
Di masanya, pabrik gula Perning terhubung dengan sejumlah pabrik gula lain yang dikelola Belanda di Mojokerto. Pabrik mengolah tebu hasil pertanian masyarakat setempat selama puluhan tahun.
Sampai akhirnya menjelang kemerdekaan, kompleks pabrik milik penjajah tersebut diduduki tentara pemberontak. Mereka menempatinya sebagai markas untuk tempur. ”Setelah menang dikuasai oleh pemerintah dan jadi kantor pemerintahan. Dulu seperti istana,” tutur Nur Sun’ah, warga Dusun Sidogede, kemarin.
Nenek 66 tahun itu menyebut, kompleks pabrik gula sempat dialihfungsikan menjadi pusat pemerintah Kecamatan Jetis. Bangunan yang masih berdiri sampai sekarang itu sempat menjadi kantor camat, polsek, dan koramil. Baru pada 1980-an, pemerintahan digeser ke Desa Kupang dan bertahan hingga kini.
Menurut cerita buyutnya, semenjak dikosongkan, bekas pabrik gula tersebut mulai terkenal mistis. Areanya yang luas dan bentuk bangunan yang masih asli zaman Belanda membuat aura negatif semakin terasa. Tak sedikit warga yang mengaku pernah melihat penampakan noni Belanda berparas cantik. Perempuan berusia kisaran 20 tahun itu kerap muncul pada malam-malam tertentu.
Pengalaman penampakan ini juga dirasakan Desi Arisandi Satna, 35. Ibu satu anak itu mengaku berkali-kali melihat sosok noni muda di bangunan bekas kantor administrasi paling barat. ”Noni Belanda berpakaian putih dan rambutnya terurai,” kata pemilik rumah sekaligus warung kopi yang berada tepat di depan bekas pabrik tersebut.
Penampakan noni muncul dari balik jendela bangunan yang berada tepat di belakang bangunan tempat tinggalnya. Makhluk tersebut hanya berdiri sambil diam. Selain noni, menurut Desi, di lokasi juga terdapat sesosok nenek berpakaian Jawa. ”Mereka positif semua, tidak pernah mengganggu. Kalau di bangunan sebelahnya (sisi timur) itu jahat. Ada genderuwo dan ular besar,” ujar perempuan yang sudah tinggal di lokasi sejak enam tahun terakhir ini. Penampakan paling banyak terjadi pada malam Jumat Kliwon.
Selain penampakan sosok, warga juga kerap mendengar suara kereta uap di bekas kompleks pabrik gula. Gemuruh kereta kuno itu muncul secara tiba-tiba saat hari mulai gelap. ”Ada hampir setengah menit, saya kira suara HP, ternyata tidak. Seperti suara sepur klutuk,” ujar Kurniawan, warga di lokasi.
Dia mengaku tidak melihat wujud kereta. Namun, di dekat tugu yang merupakan bekas tempat pengolahan tebu, suara itu terus berdengung di telinganya. Seolah, seperti ada ketera uap yang datang mengangkut tebu untuk dimasak menjadi gula. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah