Jawa Pos Radar Mojokerto - Di era digital ini, banyak istilah-istilah yang baru dan digunakan oleh pengguna media sosial, salah satunya adalah istilah cut off. Istilah cut off kerap digunakan dalam dunia maya maupun dalam interaksi di dunia nyata. Lalu, apa itu cut off? berikut penjelasan lengkapnya!
Pengertian Cut Off
Istilah cut off memiliki banyak arti dan maknanya. Dalam arti bahasa Indonesia atau secara harfiah, cut off memiliki arti memotong, memberhentikan, atau memisahkan. Dilain sisi, menurut Cambridge Dictionary, cut off memiliki arti batas dimana sesuatu berhenti.
Kemudian, menurut kamus Collins, cut off memiliki arti menghapus dengan cara memotong dan mencela sesuatu.
Sementara itu, dalam bahasa Inggris Amerika memiliki arti berhenti tiba-tiba dan memisahkan dari yang lain dengan cara memotong. Namun, dalam makna slang atau bahasa gaul, cut off memiliki arti berhenti atau memutus hubungan dekat dengan seseorang.
Istilah cut off digunakan kepada seseorang yang secara tiba-tiba memutuskan hubungan dengan orang lain. Bahkan perilaku tersebut dilakukan tanpa persetujuan atau penjelasan kepada pihak tertentu atau orang yang di ‘cut off’.
Mereka yang melakukan cut off biasanya dilakukan ketika mereka sedang mengalami masalah atau konflik dengan orang tersebut.
Baca Juga: Sering Tertukar, Inilah Perbedaan Gaslighting, Playing Victim, dan Guilt Trip
Maka dari itu, mereka memutuskan untuk cut off atau berhenti berhubungan dengan orang tersebut. Karena, berhenti atau memutus hubungan dengan orang tersebut akan membuat mereka menyelesaikan masalah atau terhindar dari konflik tersebut.
Disaat Apa Seseorang Melakukan Cut Off?
Bagi beberapa orang, sangat sulit untuk memutus dan berhenti hubungan dengan seseorang. Tetapi, terdapat beberapa sikap yang membuat seseorang melakukan cut off.
Berikut adalah beberapa sikap yang perlu kamu cut off jika teman atau sahabat kamu melakukan hal dibawah ini!
1. Berbicara di Belakang Kamu
Perilaku seseorang yang membuat orang tersebut di cut off adalah sering membicarakan teman sendiri di belakang mu. Teman atau sahabat yang membicarakanmu di belakangmu termasuk dalam pertemanan yang tidak sehat.
Mungkin terkadang beberapa sikap kita membuat teman kita frustasi, tetapi hal tersebut tidak menjadikan penyebab mereka membicarakan kita di belakangnya.
2. Tidak Ada Ketika Kamu Butuh
Sebuah pertemanan atau persahabatan perlu yang namanya kesetiaan dan kesetaraan. Selain itu, hadir di setiap teman kita butuh dapat menjadikan pertemanan tersebut sehat.
Jika teman kamu selalu minta kamu hadir dan ada disampingnya untuk mendukungnya, tetapi mereka tidak melakukan hal yang setara kepadamu, itu tandanya pertemanan kamu tidak sehat dan perlu dibicarakan.
Baca Juga: Bukan Cuma Cantik dari Luar, 7 Rutinitas Self-Care ini Bakal Bantu Kamu Menjaga Kesehatan Mental!
3. Selalu Bertentangan dengan Apa yang Kamu Mau Lakukan
Dalam beberapa kondisi atau situasi, kita tidak bisa menjadi diri kita sendiri atau apa yang kita inginkan ketika bersama dengan teman atau sahabat kita. Mereka membuat kita tidak nyaman dan selalu mengungkapkan bahwa kita selalu melakukan masalah.
Jika teman atau sahabat kalian begitu, maka kalian akan memiliki energi yang minim, karena sering meminta maaf dan mencoba memuaskan apa yang mereka inginkan.
Baca Juga: Terseret Kasus Korupsi, Mantan Komisaris Utama PT Sritex, Iwan Setiawan Lukminto Resmi Ditahan
4. Selalu Membatalkan Janji
Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan membatalkan janji. Tetapi, jika teman atau sahabat kalian sering membatalkan janji dekat dengan waktunya, maka pertemanan tersebut bisa jadi tidak sehat.
Teman atau sahabat yang membatalkan janji dekat dengan waktunya, itu tandanya teman atau sahabatmu tidak menghargai waktumu atau kamu bukan lagi menjadi teman dekatnya.
5. Perilaku yang Red Flags
Selain penyebab-penyebab di atas, terdapat juga sikap seseorang yang red flag yang membuat kita ingin cut off.
Perilaku-perilaku tersebut membuat kita tidak nyaman ketika melihat aktivitasnya yang ada di media sosial, sehingga daripada kita berpikiran buruk, lebih baik kita tidak melihat aktivitasnya. RENO
Editor : Imron Arlado