Hasil CKG 56.817 Siswa di Kabupaten
KABUPATEN - Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk anak sekolah di Kabupaten Mojokerto membongkar potret kesehatan generasi muda yang memprihatinkan. Lebih dari separo siswa yang diperiksa ternyata kurang melakukan aktivitas fisik.
Temuan ini menjadi alarm bagi orang tua, sekolah, dan pemerintah daerah. Berdasarkan data Dinkes Kabupaten Mojokerto per Senin (3/8) lalu, sebanyak 56.817 siswa atau 27,8 persen dari total sasaran telah mengikuti CKG. Dari jumlah tersebut, 53,3 persen siswa masuk kategori kurang aktivitas fisik.
’’Angka ini cukup tinggi dan menjadi perhatian serius kami. Kurang gerak di usia sekolah ini adalah pintu masuk berbagai penyakit tidak menular. Dampak jangka panjangnya bisa obesitas, diabetes, hipertensi, bahkan masalah jantung,’’ kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, dr. Agus Dwi Cahyono, Rabu (5/8).
Menurut dia, minimnya aktivitas fisik tidak bisa dilepaskan dari perubahan gaya hidup. Anak-anak saat ini lebih banyak menghabiskan waktu di depan gawai, bermain game online, dan kurang terdorong untuk berolahraga baik di sekolah maupun di lingkungan rumah. ’’Kami imbau sekolah dan orang tua untuk mengembalikan jam gerak anak. Apalagi, WHO merekomendasikan minimal 60 menit sehari untuk aktivitas fisik sedang hingga berat,’’ tegasnya.
Selain masalah kurang gerak, CKG juga menemukan beban kesehatan lain. Karies gigi menempati urutan kedua tertinggi dengan 24,7 persen. Angka ini menunjukkan masih rendahnya kesadaran menjaga kesehatan gigi dan mulut di kalangan siswa.
Kemudian ditemukan juga 2,9 persen siswa mengalami obesitas dan 8,68 persen siswa terpapar asap rokok, baik perokok aktif maupun pasif. Untuk merespons temuan karies, Dinkes akan menggalakkan kembali program UKGS atau Usaha Kesehatan Gigi Sekolah. Langkahnya meliputi edukasi cara sikat gigi yang benar, pemeriksaan gigi berkala, dan pembatasan konsumsi makanan manis di kantin sekolah.
Sedangkan untuk paparan rokok, Dinkes akan memperkuat edukasi bahaya rokok di sekolah dan berkoordinasi dengan Satpol PP serta pihak sekolah untuk menegakkan kawasan tanpa rokok secara konsisten. Agus menekankan, CKG bukan hanya sekadar pemeriksaan, tapi juga upaya deteksi dini. ’’Dengan mengetahui lebih awal, kita bisa segera melakukan intervensi. Tujuannya agar anak-anak tumbuh sehat, tidak ada yang tertinggal karena masalah kesehatan yang sebenarnya bisa dicegah,’’ ujarnya.
Dinkes Kabupaten Mojokerto menargetkan capaian CKG terus meningkat hingga akhir tahun. Pihaknya juga akan menggandeng puskesmas, sekolah, dan komite untuk memastikan seluruh siswa mendapatkan akses pemeriksaan gratis ini. (oce/fen)
Editor : Fendy HermansyahSumber : Radar Mojokerto