KABUPATEN - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto Dyan Anggrahini Sulistyowati memastikan dugaan keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan SPPG Randubango, Jumat (10/4) lalu hanya mencapai 79 siswa.
Mereka tersebar di berbagai lembaga pendidikan di Kecamatan Mojosari. Meliputi, TK Kartika sebanyak 11 siswa, MI Mi'rojul Ulum (24) siswa, SMA PGRI (5 siswa) dan, SMK PGRI (39 siswa). ’’Alhamdulillah mereka yang terdampak tidak sampai ada yang rawat inap,’’ terangnya.
Namun, tim satgas belum bisa memastikan apa penyebab peristiwa dugaan keracunan puluhan siswa dari berbagai jenjang pendidikan tersebut. Pasalnya, saat ini sampel makanan yang didistribusikan SPPG Randubango masih dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKB) Surabaya.
’’Istilahnya masih terduga ya, karena belum ada hasil uji laboratoriumnya. Lebih tepatnya istilah yang digunakan oleh BGN adalah kejadian menonjol,’’ tegasnya.
Sesuai tracing ke sejumlah siswa yang menyantap menu yang disediakan SPPG, mereka yang terdampak mengalami diare. ’’Laporan sejak awal sakit perut dan diare. Untuk muntah sepertinya tidak, karena ketika saya minta sampel muntahan untuk kami uji laboratorium tidak ada muntahan yang dapat kami ambil,’’ paparnya.
Sebelumnya, Kepala SMK PGRI Mojosari Arief Setjo Wahjudi membenarkan adanya beberapa siswa mengeluhkan diare usai menyantap menu MBG. Diakuinya, sekolah sempat mendapati bumbu kacang yang dikirim oleh SPPG yang dinaungi Yayasan Santtana Andalan Nglonggongan mengalami perubahan tekstur dan aroma.
Berdasarkan data dan kronologi yang dihimpun, siswa SMA dan SMK PGRI Mojosari mulai mengonsumsi paket makanan tersebut sekitar pukul 09.00 WIB.
’’Ada beberapa siswa yang telanjur mengonsumsi lalu mengalami diare. Sore harinya, enam siswa kelas X dan tiga siswa kelas XII mengeluhkan gejala yang sama setelah mengonsumsi bumbu kacang dari siomay tersebut,’’ paparnya. (ori/ris)
Editor : Fendy Hermansyah