Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

98 Balita di Kabupaten Mojokerto Derita Gizi Buruk

Khudori Aliandu • Minggu, 12 April 2026 | 06:19 WIB
ilustrasi gizi buruk
ilustrasi gizi buruk

 

’’Dan saya yakin tidak hanya satu ini saja, ini bisa saja bak gunung es, kita perlu dukungan dan empati dari masyarakat juga. Termasuk support system dari lingkungan.” terangnya. 

Dyan Anggraini Sulistyowati

Kepala Dinkes Kabupaten Mojokerto

 

-         Kasus di Kabupaten bak Gunung Es

-         Dinkes Sebut Butuh Kolaborasi Banyak Pihak

KABUPATEN – Persoalan gizi buruk pada balita di bawah usia lima tahun di Kabupaten Mojokerto hingga saat ini masih mencapai 98 kasus. Namun, penanganan kasus tersebut tidak bisa dilakukan mandiri. Melainkan, dibutuhkan dukungan berbagai pihak baik perusahaan melalui corporate social responsibility (CSR) maupun support system dari lingkungan. 

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto Dyan Anggraini Sulistyowati mengatakan, persoalan gizi buruk alias tengkes pada balita di Kabupaten Mojokerto tidak cukup jika mengandalkan pemerintah daerah (pemda). Melainkan, penanganannya membutuhkan kolaborasi antarpihak agar kasusnya tidak terus terulang. ’’Artinya, persoalan ini menjadi tanggung jawab bersama, semua pihak harus turut ambil peran,’’ ungkapnya, Jumat (10/4). 

Terlebih, angka balita yang mengalami gizi buruk di bumi Majapahit ini masih tinggi. Bahkan, tercatat mencapai 98 kasus yang saat ini tengah ditangani dinkes. Satu di antaranya memiliki penyakit penyerta langka yang belum bisa didiagnosa secara medis, hingga mengharuskan pengiriman sampel darah ke Korea. ’’Dan saya yakin tidak hanya satu ini saja, ini bisa saja bak gunung es, kita perlu dukungan dan empati dari masyarakat juga. Termasuk support system dari lingkungan,’’ terangnya. 

Masih tingginya balita yang alami gizi buruk, terang Dyan memang didasari oleh beberapa faktor yang mempengaruhi. Mulai dari keterbatasan anggaran dan logistik, hingga belum optimalnya mekanisme deteksi dini dan tindak lanjut kasus by name by address. 

Tak kalah penting, lanjut dia, kondisi tersebut juga akibat rendahnya kepatuhan keluarga dalam pemanfaatan pemberian makan tambahan (PMT). ’’Makanya, sebagai pencegahan kita terus melakukan edukasi kepada masyarakat untuk meningkatkan cakupan dan kualitas pemberian makanan tambahan (PMT) lokal bagi balita gizi kurang dan berat badan (BB) tidak naik,’’ tegasnya. 

Dia menambahkan, pemerintah tidak akan tutup mata atas persoalan seperti ini. Selama ini, lanjut dia, pemda sudah melakukan pendampingan kesehatan secara terukur di tengah masyarakat. Termasuk terhadap pasien yang mengalami gizi buruk melalui penguatan intervensi konseling pemberian makanan bayi dan anak (PMBA) secara intensif.

Namun, keterbatasn anggaran kembali menjadi kendala dalam implementasi di lapangan. ’’Makanya, untuk persoalan gizi buruk ini kita gandeng perusahaan melalui penyaluran CSR-nya. Termasuk peran Baznas juga kita libatkan,’’ paparnya. 

Sedianya, Sabtu (11/4), Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa bersama Baznas bakal melakukan kunjungan lanjutan kepada balita gizi buruk dengan penyakit penyerta langka asal Kecamatan Dlanggu tersebut. 

Selain menyalurkan bantuan, juga untuk memastikan pembiayaan tes sampel darah ke Korea. ’’Jadi, alhamdulillah ada tangan-tangan baik yang turut terlibat aktif atas nama kemanusiaan, semoga ini akan meringankan beban keluarga dan pemerintah,’’ paparnya. 

Sebelumnya, pasien balita yang mengalami gizi buruk dengan penyakit penyerta langka ini dalam penanganan intensif. Karena pemda, bahkan digital subtraction angiography (DSA) RSUD Dr. Soetomo Surabaya tak mampu mendiagnosa pemeriksaan sampel darah, hingga akhirnya dilakukan di Korea.

Tujuannya, untuk mengungkap panyakit apa yang diderita balita yang baru berusia 21 bulan ini. ’’Kalau Dr. Soetomo saja tidak mengerti, berarti ini tidak pernah ada kejadian sebelumnya. Ini kasus langka dan baru,’’ tandas Dyan. (ori/ris/fen)

 

Editor : Fendy Hermansyah
#gizi buruk mojokerto #anak gizi buruk #kasus stunting