Lingkungan yang memahami kondisi epilepsi dapat membantu penyintas merasa lebih aman dan percaya diri.JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Epilepsi masih sering disalahpahami oleh masyarakat. Stigma, ketakutan, dan informasi yang keliru kerap membuat penyintasnya tidak hanya berjuang melawan kondisi medis, tetapi juga menghadapi tekanan sosial.
Namun di balik tantangan tersebut, banyak penyintas epilepsi yang justru menunjukkan ketangguhan luar biasa, tetap berkarya, berkontribusi, dan menginspirasi.
Bagi Sebagian orang, epilepsi mungkin terlihat sebagai batas. Kejang yang datang tanpa peringatan, kebutuhan untuk rutin mengkonsumsi obat, serta keterbatasan dalam aktivitas tertentu bisa menjadi hambatan.
Namun bagi para penyintas, kondisi ini bukanlah akhir dari segalanya. Justru, mereka belajar untuk lebih mengenal diri, mengatur ritme hidup, dan menemukan cara untuk tetap produktif.
Baca Juga: Kerajaan Majapahit Andalkan Pelabuhan Tuban dan Canggu dalam Perdagangan Internasional
Salah satu kisah inspiratif datang dari seorang penyintas yang memilih untuk tidak menyembunyikan kondisinya. Alih-alih merasa malu, ia justru aktif mengedukasi lingkungan sekitarnya tentang epilepsi.
Melalui media sosial dan komunitas, ia berbagi pengalaman, memberikan dukungan moral, serta meluruskan berbagai mitos yang beredar. Baginya, keterbukaan adalah Langkah awal untuk melawan stigma.
Karya juga menjadi ruang ekspresi yang kuat bagi banyak penyintas. Ada yang menyalurkan pengalaman mereka melalui tulisan, seni, hingga aktivitas sosial. Mereka membuktikan bahwa epilepsi tidak menghalangi kreativitas maupun semangat untuk berkontribusi. Bahkan, beberapa diantaranta berhasil meraih prestasi di bidang akademik, professional, maupun seni.
Namun, perjuangan ini tidak bisa dilakukan sendiri. Dukungan dari keluarga, teman, dan masyarakat memegang peran penting. Lingkungan yang memahami kondisi epilepsi dapat membantu penyintas merasa lebih aman dan percaya diri. Hal sederhana seperti mengetahui cara menangani kejang atau tidak memberikan stigma negatif sudah menjadi bentuk dukungan yang berarti.
Hari peringatan epilepsi menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran publik. Ini bukan hanya tentang mengenali penyakitnya, tetapi juga tentang mendengar suara para penyintas. Mereka ingin dilihat bukan dari keterbatasannya, melainkan dari potensi dan kontribusinya.
Melawan stigma memang tidak mudah, setiap perubahan selalu dimulai dari Langkah kecil. Dengan edukasi yang tepat, empati, dan keterbukaan, masyarakat dapat menjadi bagian dari lingkungan yang lebih inklusif. Penyintas epilepsi tidak membutuhkan belas kasihan, melainkan kesempatan yang setara untuk hidup, berkarya, dan bermimpi.
Baca Juga: Teknologi Distribusi Perdagangan Zaman Majapahit, Simpan Rempah Dalam Karung Goni dan Guci
Kisah kisah mereka adalah pengingat bahwa kekuatan manusia tidak diukur dari bebasnya seseorang dari tantangan, melainkan dari bagaimana ia bangkit dan terus melangkah.
NENSI
Editor : Imron Arlado