JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Peringatan Hari Epilepsi Sedunia menjadi momen penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang epilepsi. Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, masih banyak beredar mitos dan kesalahpahaman yang membuat penderita epilepsi kerap mengalami stigma dan perlakukan yang tidak tepat.
Epilepsi sendiri merupakan gangguan sistem saraf pusat yang terjadi akibat aktivitas otak yang tidak normal dan ditandai dengan kejang berulang yang tidak bisa dikendalikan. Kondisi seperti ini bisa dialami oleh siapa saja, dari anak-anak hingga orang dewasa.
Namun sayangnya, banyak di media sosial muncul anggapan yang keliru. Salah satu yang paling umum adalah anggapan bahwa epilepsi ini merupakan penyakit menular. Faktanya, epilepsi sama sekali tidak menular karena bukan disebabkan oleh virus atau bakteri.
Selain itu, banyak orang beranggapan bahwa epilepsi ada kaitannya dengan hal-hal mistis seperti kesurupan atau kutukan. Pandangan ini berubah seiring berkembangnya masyarakat, selain itu diperkuat dengan cerita-cerita yang beredar secara turun-temurun.
Baca Juga: Lima Jalan di Kota Mojokerto Rawan Pelanggaran
Kesalahpahaman lain yang sering muncul adalah anggapan bahwa epilepsi termasuk gangguan kejiwaan. Di media sosial juga sering menampilkan video orang yang kejang tanpa penjelasan yang tepat sehingga menimbulkan kepanikan dan banyak orang justru takut untuk mendekat atau menolong karena khawatir akan tertular.
Di sisi lain, kurangnya edukasi juga membuat sebagian keluarga memilih menyembunyikan kondisi epilepsi karena takut stigma sosial. Hal ini justru dapat menghambat penanganan yang tepat dan memperburuk kondisi penderita epilepsi.
Melalui peringatan Hari Epilepsi Sedunia ini, masyarakat diajak untuk lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi, terutama di media sosial. Dengan pengalaman yang tepat, stigma epilepsi dapat perlahan hilang, dengan dukungan dari lingkungan sekitar juga dapat menjadi kunci agar penderita dapat menjalani hidup dengan normal seperti biasanya.
TISA
Editor : Imron Arlado