’’Jadi, totalnya di awal tahun 2026 ini ada 73 kasus DBD. Jika melihat siklus setiap tahunnya, tren peningkatan memang terjadi di triwulan pertama. Terbanyak usia anak-anak, yaitu 5 sampai 15 tahun.’’
dr. Agus Dwi Cahyono
Kabid P2P Dinkes Kabupaten Mojokerto
KABUPATEN - Tren kasus demam berdarah dengue (DBD) pada awal tahun di Kabupaten Mojokerto perlu diwaspadai. Bahkan, per Maret ini dinas kesehatan (dinkes) mencatat trennya sudah menembus 73 kasus.
Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Mojokerto dr. Agus Dwi Cahyono mengatakan, memasuki musim penghujan ini kasus DBD tetap harus diwaspadai oleh masyarakat. Apalagi, sesuai data, trennya terus meningkat seiring banyaknya warga yang terjangkit. ’’Cuaca hujan yang saat ini masih berlangsung, beberapa pekan ke depan kasus DBD masih perlu diwaspadai masyarakat,’’ ungkapnya.
Sebagaimana evaluasi setiap tahun, intensitas hujan yang terjadi membuat nyamuk Aedes aegypti mudah berkembang seiring kemunculan genangan air di lingkungan masyarakat. Di sisi lain, kesadaran masyarakat dalam melakukan pemberantasan juga masih rendah.
’’Jadi, ada dua faktor. Faktor lingkungan, kebersihan lingkungan, banyaknya sarang nyamuk, dan cuaca. Sedangkan faktor individu, itu kaitannya kekebalan tubuh, status gizi, kebersihan diri, hingga riwayat penyakit lain,’’ paparnya.
Sesuai data dinkes, terang Agus, tren kasus DBD di awal tahun ini cukup tinggi, sudah menembus 73 kasus. Rinciannya, Januari 37 kasus, Februari 30 kasus, dan Maret sudah ada 6 kasus. Bahkan, satu pasien di antaranya dinyatakan meninggal setelah sebelumnya dirawat di rumah sakit selama beberapa hari.
’’Jadi, totalnya di awal tahun 2026 ini ada 73 kasus DBD. Jika melihat siklus setiap tahunnya, tren peningkatan memang terjadi di triwulan pertama. Terbanyak usia anak-anak, yaitu 5 sampai 15 tahun,’’ tandasnya.
Sesuai data, satu pasien meninggal statusnya masih balita usia 5 tahun asal Desa Gayaman, Kecamatan Mojoanyar. ’’Ada satu anak, sudah kami cek data-datanya memang meninggal karena sakit DBD. Sudah dilaksanakan fogging pada hari Selasa kemarin oleh Puskesmas Gayaman,’’ jelas mantan Kapus Pungging tersebut.
Sebagai langkah tindak lanjut terhadap tingginya tren DBD belakangan ini, puskesmas juga diminta lebih giat lagi mengajak masyarakat melaksanakan program PSN dengan 3M plus. Selain menguras dan menyikat, menutup penampungan air, masyarakat juga harus mencegah gigitan dan perkembangbiakan nyamuk dengan menggunakan obat antinyamuk.
’’Kami juga menerbitkan surat edaran khusus kewaspadaan DBD ke puskesmas dan RS. Meningkatkan promosi kesehatan waspada DBD melalui media sosial dinkes dan puskesmas,’’ pungkasnya. (ori/ris)
Editor : Fendy Hermansyah