Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Jumlah Sanitarian Terbatas, Pengawasan SPPG di Mojokerto Belum Optimal

Khudori Aliandu • Kamis, 15 Januari 2026 | 06:20 WIB

 

BERBUNTUT PANJANG: SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03, Kecamatan Kutorejo, sebagai penyuplai program MBG siswa yang alami keracunan tanpa dilengkapi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi. Padahal sertifi
BERBUNTUT PANJANG: SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03, Kecamatan Kutorejo, sebagai penyuplai program MBG siswa yang alami keracunan tanpa dilengkapi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi. Padahal sertifi
KABUPATEN - Pemkab Mojokerto bakal memperkuat pengawasan kepada SPPG yang tengah beroperasi seiring peristiwa keracunan massal di Kecamatan Kutorejo. Hanya saja, pemda menyadari keterbatasan personel sanitarian hingga kewenangan menjadikan pengawasan tidak bisa optimal. 

Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa mengatakan, peristiwa keracunan massal yang terjadi belakangan ini benar-benar menjadi perhatian pemda. Selain dalam penanganan tehadap para korban, juga mengantisipasi peristiwa tersebut teruang kembali. ’’Prinsipnya, peristiwa ini harus menjadi bahan evaluasi bersama agar tidak sampai kejadian ini terulang terhadap anak didik kita yang menjadi sasaran program MBG,’’ ungkapnya. 

Sehingga dengan banyaknya SPPG yang sudah beroperasi di bumi Majapahit, pemda berkomitmen akan memperkuat pengawasan secara berkala. Baik pada proses pengolahan manu masakan yang bakal disajikan setiap harinya maupun proses pendistribusian ke setiap sekolah sebagai sasaran MBG. 

’’Langkah kita ke depan, akan melakukan peningkatan pengawasan kepada SPPG yang sudah beroperasi secara berkala. Meskipun terdapat beberapa kendala, sehingga pemkab belum bisa  memberikan pengawasan secara optimal,’’ jelasnya. 

Kendala pengawasan pemda ini tak lain akibat keterbatsan jumlah personel. Khususnya tenaga sanitarian lingkungan (TSL) yang belakangan diketahui belum ada di semua puskesmas yang tersebar di 18 kecamatan. 

Di sisi lain, SPPG yang beroperasi tanpa dilengkapi SLHS mencapai 76 titik. ’’Tenaga sanitarian lingkungan kita hanya 22 orang, sedangkan jumlah SPPG yang sudah beroperasi ada 77 titik. Test kit atau reagen yang dipakai setiap hari juga belum tersedia. Ini yang rencananya akan disiapkan oleh Badan Gizi Nasional,’’ papar Gus Bupati. (ori/ris)

 

Editor : Fendy Hermansyah
#Keracunan Menu MBG #keracunan mbg #Menu MBG Basi #keracunan massal #mbg mojokerto