- Posko Kesehatan Dialihkan, 15 Fasyankes Jadi Rujukan
- Siswa PAUD, Guru, hingga Wali Murid Turut Masuk RS
KABUPATEN - Hingga Minggu (11/1) siang, jumlah peserta didik dan tenaga pendidik yang keracunan massal yang disinyalir akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bina Bangsa Semarang 03, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto mencapai 261 orang. Sebanyak 123 di antaranya masih menjalani perawatan medis yang tersebar di 15 fasilitas pelayanan kesehatan mulai rumah sakit umum hingga puskesmas.
Kepala Dinkes Kabupaten Mojokerto Dyan Anggrahini Sulistyowati mengatakan, sesuai kondisi terbaru, ada 261 orang yang terdampak dalam peristiwa tersebut dari sebelumnya 152 orang. Dari total tersebut sebelumnya ada 140 orang yang menjalani perawatan intensif. ’’Tapi yang rawat inap per pukul 13.00 sejumlah 115 orang, dari sebelumnya 140. Jadi, yang 25 orang tersebut sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya membaik,’’ bebernya.
Namun, karena seluruh pasien sudah dialihkan dari posko di ponpes sehingga jumlah pasien yang menjalani rawat inap di beberapa fasyankes bertambah. Yakni 123 orang. ’’Yang terbaru total 123 orang masih menjalani rawat inap. Tersebar di 15 fasyankes,’’ ulas dia.
Adapun, 15 fasyankes yang menangani penanganan medis bagi korban dugaan keracunan tersebut antara lain, RS Dharma Husada Ngoro, RSUD Prof dr Soekandar, RS Sumber Glagah, RS Mawaddah Medika, RSI Arofah, RS Kartini, RS Sidowaras, RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, RS Dian Husada, RSI Sakinah, Puskesmas Pacet, Puskesmas Gondang, Puskesmas Kutorejo dan Puskesmas Bangsal.
Pihak Dinkes juga memindahkan posko kesehatan terpusat untuk penanganan korban dugaan keracunan massal makanan bergizi gratis (MBG), Minggu (11/1). Puskesmas Kutorejo ditunjuk menjadi fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) terpusat, setelah sebelumnya ratusan korban menjalani perawatan di Ponpes Mahad An Nur, Desa Singowangi, Kecamatan Kutorejo.
Dyan menjelaskan, sejak Minggu (11/1) siang, seluruh penanganan medis bagi korban dugaan keracunan MBG yang disuplai dari SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03, Kecamatan Kutorejo dialihkan ke Puskesmas Kutorejo. ’’Per pukul 13.00 siang tadi (kemarin, Red), beberapa pasien yang masih ada di Ponpes Mahad An Nur kita alih rawat inapkan ke Puskesmas Kutorejo, Bangsal dan Rumah Sakit Mawaddah Medika dan RSUD Prof dr Soekandar,’’ katanya.
Dyan menambahkan, usai dipindahkan ke beberapa fasyankes, pihaknya menyatakan penanganan medis terpusat di Puskesmas Kutorejo. Pemindahan posko ini didasari dengan beberapa alasan. ’’Di antaranya, karena jumlah pasien yang sudah berkurang, fasilitas untuk pasien kurang memadai, ketersediaan obat-obatan dan makanan pasien (menu khusus) yang perlu diperhatikan,’’ bebernya.
Sementara itu, korban dugaan keracunan tidak hanya dirasakan peserta didik pada tingkat TK, SD, SMP, melainkan juga menyasar guru dan wali murid yang diduga turut menikmati MBG dari SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 yang ada di Yayasan Ponpes Al Hidayah.
Plt Kepala Dispendik Kabupaten Mojokerto Yoi’e Afrida Soesetyo Djati, mengatakan sebagaimana laporan dugaan keracunan setelah mengonsumsi menu MBG diketahui juga menyasar anak-anak di jenjang TK dan SD. ’’Dugaan keracunan menu MBG ini, selain siswa, guru juga ada yang terdampak,’’ ungkapnya.
Seperti pada TK Dharma Wanita Wonodadi, terang Yoi’e, ada guru yang harus dilarikan ke rumah sakit bersama para peserta didiknya akibat alami diare dan muntah usai menyantap menu MBG. ’’Siswa PAUD yang opname di Pustu Sumberglagah sudah rawat jalan jam 5 pagi tadi (kemarin), tetapi tadi bertambah 1 guru KB opname, sehingga total yang opname dua orang,’’ tuturnya.
Begitu juga dengan SDN Wonodadi 1 ada puluhan anak yang mengalami gejala keracunan. Mereka yang mengalami gejala keracunan, seperti mual, muntah dan panas menyasar kelas 2 tiga siswa, kelas 3 tiga siswa, kelas 5 dua siswa, dan kelas 6 lima siswa.
Sementara itu untuk siswa SDN Singowangi ada 22 siswa dan wali murid yang turut menjadi korban keracunan. ’’Paling banyak pada kelas 5 ada 15 siswa dan satu wali murid,’’ tegasnya.
Selanjutnya ada empat siswa kelas 1 dan dua siswa kelas 6. Sesuai identifikasi, para siswa TK dan SD yang diduga keracunan ini baru merasakan gejala pada sore dan dini hari kemarin. ’’Ada yang mengalami gejala keracunan diare, mual, demam dan panas,’’ tambah Yoi’e menegaskan.
Kebanyakan mereka yang mengalami gejala keracunan ini secara mandiri berangkat ke fasilitas rumah sakit secara mandiri. Baik ke puskesmas terdekat ataupun rumah sakit untuk penanganan medis. ’’Demikian dengan para siswa SMPN 2 Kutorejo, sesuai data ada 109 siswa yang diduga keracunan,’’ jelasnya.
Banyaknya siswa yang mengeluh sakit membuat sekolah melakukan pendataan. Baik secara langsung saat di lingkungan sekolah ataupun melakui list grup WhatsApp terhadap siswa yang tidak masuk sekolah. ’’Pihak sekolah sempat memberikan pertolongan pertama dengan obat luar. Tetapi melihat siswa yang mengeluh semakin banyak pihak sekolah memutuskan untuk memulangkan siswa,’’ pungkasnya.
Sebelumnya, sebanyak 152 orang mendapat perawatan intensif lantaran diduga mengalami keracunan massal. Itu terjadi selepas mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (9/1). Mereka mengeluhkan mual, muntah, pusing, lemas, hingga diare usai menyantap soto ayam yang didapat dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bina Bangsa Semarang 03.
Ratusan korban tersebut berasal dari 7 lembaga pendidikan tingkat SMP/MTs dan SMA/MA. Mereka berasal dari Pondok Pesantren (Ponpes) Teknologi Informasi Al Hidayah Desa Wonodadi, Ponpes Mahad An Nur Desa Singowangi, serta SMPN 2 Kutorejo. (oce/ori/fen)
Editor : Fendy Hermansyah