JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Semakin tingginya konsumsi gula dan ultra processed food di masa kini membuat isu mengenai diet gula semakin marak diperbincangkan di Indonesia karena relevansinya terhadap kesehatan yang menguat.
Hal ini terjadi karena mengonsumsi gula secara berlebihan terutama gula tambahan dalam minuman manis dan makanan siap saji memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan tubuh.
Minuman dan makanan manis yang tinggi kalori namun tidak membuat kenyang memungkinkan seseorang mengonsumsi secara berlebihan dan berujung pada kenaikan berat badan yang tidak wajar dan munculnya penyakit metabolik berbahaya.
Penyakit berbahaya seperti obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga masalah metabolik lainnya dapat dengan mudah muncul jika seseorang mengonsumsi gula lebih dari batas wajar.
Hal ini dapat dibuktikan melalui penelitian baru di tingkat global yang menyatakan bahwa mengonsumsi minuman manis berkaitan dengan jutaan kasus diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.
Pemerintah Indonesia sendiri beberapa kali telah merencanakan cukai minuman berpemanis, namun penerapannya mengalami penundaan hingga tahun 2026.
Sementara itu, Indonesia menempati posisi rawan dengan persentase diabetes sekitar 11% dari populasi dewasa.
Angka penyakit metabolik diabetes di Indonesia juga terus mengalami kenaikan hingga termasuk dalam urutan tertinggi di dunia.
Di tengah ramainya konsumen gula secara berlebihan, tak sedikit juga orang yang sadar akan bahaya mengonsumsi gula secara berlebihan dan mulai menerapkan gaya hidup sehat dengan diet gula.
Baca Juga: Desa Kesimantengah, Kecamatan Pacet Ajak Gotong Royong Warga Perbaiki Jalan Antardusun
Diet gula sendiri bukan berarti sama sekali tidak mengonsumsi gula, melainkan membatasi konsumsi gula tambahan atau gula bebas.
Gula tambahan (added sugars) atau gula bebas (free sugars) adalah gula yang berupa gula pasir, sirup fruktosa, madu, sirup jagung, hingga gula aren yang ditambahkan di minuman dan makanan.
Minuman seperti jus buah yang selama ini dikenal sebagai minuman sehat pun termasuk dalam kategori gula bebas karena sudah kehilangan serat alaminya.
Idealnya konsumsi gula bebas atau gula tambahan tidak lebih dari 10% total energi harian, bahkan lebih disarankan mengonsumsi gula tambahan sebesar 5% saja.
Gambaran lebih praktis dan mudah dipahaminya, Asosiasi Jantung Amerika atau AHA menyarankan konsumsi gula tambahan sekitar 25 gram per hari untuk perempuan dan 36 gram per hari untuk laki-laki.
Tak hanya menyebabkan penyakit metabolik, konsumsi gula secara berlebihan juga dapat menjadi pemicu masalah kesehatan gigi.
Ketika seseorang berhasil melakukan diet gula, manfaatnya bisa langsung terasa. Berat badannya akan terasa lebih stabil karena diet gula mampu membantu manajemen berat badan dengan konsisten dan efektif.
Baca Juga: Kawal Enam Rekom KPK, Segera Panggil APIP Kota Mojokerto
Resiko terkena penyakit jantung dan diabetes tipe 2 pun menurun karena teraturnya kadar gula darah dan meningkatkan sensitivitas insulin.
Selain berpengaruh pada kesehatan fisik, mengurangi konsumsi gula juga dapat berpengaruh pada energi tubuh yang terasa lebih konsisten dan kualitas hidup meningkat karena resiko terkena penyakit kronis menurun.
Hal ini menunjukkan bahwa diet gula bukan sekedar tren, melainkan bukti nyata dari kesehatan global dan nasional yang semakin nyata.
Untuk itu, di tengah maraknya peningkatan persentase diabetes, seluruh orang diharap untuk mengurangi konsumsi gula tambahan sebagai langkah sederhana yang memiliki dampak besar demi kualitas hidup yang tinggi dan terjamin kesehatannya.
FANEZA/Devi
Editor : Imron Arlado