JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Memaafkan sering dianggap mudah diucapkan, tetapi sulit untuk dilakukan, terutama jika luka batin yang kita alami sangat dalam.
Dari sudut pandang psikologi, rasa sulit memaafkan muncul karena luka emosional yang menimbulkan rasa marah, kecewa, atau kehilangan kepercayaan.
Terkadang, keinginan mempertahankan rasa sakit juga muncul sebagai bentuk perlindungan diri agar tidak merasa terluka lagi. Luka lama yang belum terselesaikan pun dapat memperburuk rasa dendam, membuat kita sulit move on.
Selain itu, kita sering merasa memaafkan adalah proses melepaskan beban emosi demi ketenangan diri, bukan berarti membenarkan perbuatan yang salah. Tetapi terkadang membuat hati kita juga merasa tidak tenang.
Dari perspektif psikologi, kesulitan memaafkan biasanya muncul karena luka yang lama dipendam atau luka emosional kompleks. Rasa sakit akibat pengkhianatan, penolakan, penghinaan, atau perlakuan yang tidak adil dapat membuat meninggalkan bekas luka mendalam pada jiwa seseorang.
Luka batin juga tidak hanya menyisakan rasa marah atau merasa sedih, tetapi juga dapat mengganggu rasa kurang nya percaya diri. Dan juga bisa membuat kita sulit untuk mempercayai orang lain, bahkan mempengaruhi cara kita memandang dunia.
Dan banyak orang juga merasa bahwa memaafkan berarti melupakan kesalahan yang dilakukan orang lain. Atau membiarkan pelaku lolos begitu saja tanpa adanya konsekuensi, padahal, secara psikologi, memaafkan tidak berarti membenarkan apa yang terjadi.