JAWA POS RADAR MOJOKERTO - TikTok bagi Gen Z tentu bukan sekedar platform, Begi generasi Z aplikasi ini adalah hiburan yang membuat candu.
Banyak dari Gen Z yang mengungkapkan kalau sehari tidak membuka TikTok rasanya hampa. Di era serba digital ini selain menjadi aplikasi yang menghibur jika digunakan secara terus-menerus akan menggerogoti mental para penggunanya.
Adanya algoritma canggih yang dirancang ternyata dapat memicu hormon dopamine. Dopamin adalah hormon atau neurotransmitter untuk membuat kita bisa merasakan kenikmatan dan bukan hanya kenikmatan hormon dopamin juga membuat kita bisa merasakan bahagia atau bersemangat untuk mendapatkan sesuatu yang belum kita miliki, Hendy Widodo, 2023.
Saat kita sedang scroll TikTok tubuh memproduksi hipotalamus yang bekerja untuk memproduksi hormon dopamine, sehingga menjadikan seseorang ketagihan. Beberapa penelitian juga mengungkapkan kecanduan scroll TikTok tidak hanya membuang waktu, melainkan juga memiliki dampak buruk bagi kesehatan mental para Gen Z.
Gen Z merupakan generasi yang rentan terkena dampak negatif dari media sosial, karena mereka tumbuh besar di tengah gempuran media sosial. Lantas, dampak buruk apa yang didapatkan Gen Z bagi mentalnya.
1. Comparison Culture dan Krisis Identitas Diri
Banyaknya konten-konten yang memamerkan gaya hidup sempurna, penampilan ideal, bahkan pencapaian yang luar biasa sering kali tidak sesuai dengan kehidupan asli para pembuat video. Jika Gen Z terus-menerus disuguhi dengan konten-konten seperti ini mereka akan cenderung membandingkan diri sehingga menimbulkan perasaan tidak cukup dan insecure.
Baca Juga: Sedang Viral! Inilah AI yang sedang Tren di TikTok, Foto Bisa Jadi Video Kungfu
2. Meningkatkan Kecemasan, Depresi, dan FOMO Akut
Algoritma yang terkadang sesuai dengan isi hati membuat konten-konten yang ditampilkan related dengan kondisi yang dialami. Ketika kita sedang galau, seakan algoritma bisa membaca kondisi hati yang mendukung kita semakin sedih dengan konten yang related dengan suasana hati.
3. Penurunan Rentang Konsentrasi dan Produktivitas
Format video pendek dan cepat si TikTok melatih otak untuk mencari stimulasi instan secara terus-menerus. Akibatnya, Gen Z dapat mengalami kesulitan mempertahankan fokus pada tugas yang membutuhkan perhatian jangka panjang seperti belajar, membaca buku atau bahkan percakapan mendalam di dunia nyata.
Mengendalikan kebiasaan scrolling adalah investasi krusial untuk menjaga kesehatan mental tetap prima, agar bisa hidup lebih bahagia, fokus, dan otentik di tengah dunia digital yang serba cepat ini.
Baca Juga: Insecure Karena Media Sosial? Waspadai ‘Comparison Culture’ yang Renggut Mental Gen Z
Editor : Imron Arlado