KABUPATEN - Kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang ternak sapi di Kabupaten Mojokerto akhirnya tertangani. Penyebaran penyakit mematikan itu dilaporkan sudah nihil sejak satu bulan terakhir.
’’Untuk saat ini sudah tidak ada laporan kejadian PMK di wilayah Kabupaten Mojokerto,’’ kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto Tutik Suryaningdyah, kemarin (16/4).
Menurutnya, penyebaran penyakit menular itu sudah mulai landai sejak Februari. Tren penurunan kasus terjadi seiring dengan pemberian obat dan vitamin terhadap ternak serta penyemprotan disinfektan di pasar hewan. Sebagai upaya mencegah penularan, sebanyak tujuh pasar hewan juga ditutup selama 14 hari terhitung sejak 15-29 Januari lalu.
Vaksinasi massal dan penghentian mobilitas hewan itu terbukti ampuh menekan angka PMK. Hingga akhirnya, sejak Maret lalu kejadian PMK sudah dilaporkan nihil kasus. ’’Jadi dari bulan Maret itu sudah tidak ada laporan PMK,’’ ucap Tutik.
Penyakit mulut dan kuku kembali merebak di Kabupaten Mojokerto sejak pertengahan Desember 2024. Kasus kematian sapi akibat PMK pertama kali muncul di Kecamatan Dawarblandong. Sampai Februari lalu, wabah ini menjangkiti 393 sapi. Akibatnya sebanyak 21 ekor mati dan 14 ekor dipotong paksa.
Kendati telah terkendali, disperta mengimbau peternak tetap mengantisipasi penyebaran PMK dengan menjaga kebersihan kandang. Selain itu, 38 ribu dosis vaksin yang telah disuntikkan terhadap sapi dan kambing diharapkan membuat ternak semakin kebal. (adi/fen)
Editor : Hendra Junaedi