KABUPATEN - Pemkab Mojokerto berhasil menekan penyebaran wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menjangkiti 393 hewan ternak sapi. Upaya konkret itu didukung dengan ketersediaan stok vaksin sebesar 38 ribu dosis yang dimanfaatkan paramedis untuk mencegah ataupun mengobati.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto, Nuryadi mengatakan, jika penanganan PMK di wilayah berhasil dilakukan. Bahkan, penularan belakangan berhasil dihentikan. ’’Alhamdulillah, sudah tidak ada tambahan kasus PMK lagi. Penularan berhasil kita hentikan,’’ ungkapnya.
Keberhasilan itu tak lepas dari melimpahnya stok vasin yang dipasok Pemprov Jatim. ’’Kita sudah gunakan 38.000 dosis, termasuk tambahan Januari- Februari 2025,’’ tambahnya.
Sesuai data, tingkat kesembuhan atas ternak yang terjangkit PMK mencapai 353 kasus dari total 393 kasus PMK. Kendati begitu, disperta turut mengakui jika ada puluhan ekor sapi yang mati akibat serangan penyakit tersebut. ’’Akibat wabah PMK ini ada 21 ekor sapi mati, 14 potong paksa dan 5 sakit. Dan yang masih sakit ini kita treatment agar semuanya sembuh,’’ jelas mantan Camat Kutorejo ini.
Nuryadi menargetkan, wabah PMK di Kabupaten Mojokerto nol kasus saat bulan Ramadan atau akhir Februari nanti. Untuk itu, tim paramedis pun terus menggencarkan vaksinasi pada hewan ternak. Termasuk, pelayanan kesehatan dengan pemberian obat dan menerapkan komunikasi, Informasi dan edukasi (KIE) kepada masyarakat atau peternak.
Di sisi lain, disperta juga, kembali mengajukan tambahan stok vaksin kepada Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur. ’’Pokoknya, menjelang bulan Ramadan ini, vaksinasi terus kita gencarkan untuk menuntaskan kasus PMK,’’ pungkasnya.
Sebelumnya, setelah dua pekan di-lockdown, tujuh pasar hewan di Kabupaten Mojokerto resmi dibuka. Sejak Rabu (29/1), ketujuh pasar telah aktif menjajakan hewan ternak, khususnya sapi dan kambing. Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang sempat mewabah kini bukan lagi ancaman bagi peternak setelah pasar disterilkan selama 14 hari. (ori/fen)
Editor : Hendra Junaedi