Disperta Sebut PMK Hanya Menular ke Sesama Hewan
KABUPATEN - Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Mojokerto memastikan daging dan susu sapi yang terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) aman untuk dikonsumsi. Sapi yang dipotong paksa atau sakit akibat terpapar penyakit ini tidak berbahaya, karena tak menular ke manusia.
Demikian itu diungkapkan Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Disperta Tutik Suryaningdyah, kemarin (3/1). Menurutnya, PMK bukanlah penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia maupun sebaliknya.
Penyakit yang menyebabkan luka pada mulut dan kuku ternak itu hanya menular ke sesama hewan berkuku belah. Seperti sapi, kambing, domba, dan babi. Dengan demikian, daging dari ternak yang terkena PMK aman dikonsumsi. ”Daging dan susu dari ternak yang terjangkit PMK, misalnya, dipotong paksa itu tidak berbahaya, bisa dikonsumsi,” katanya.
Tutik menyebut, meski bisa disembuhkan, sejumlah peternak biasanya melakukan potong paksa terhadap ternak yang mengalami PMK karena khawatir mati. Dia menyarankan agar bagian tubuh ternak yang disembelih direbus terlebih dahulu sebelum dimasak.
Hal ini untuk menghindari penyebaran penyakit melalui benda dan kulit manusia yang terkontaminasi liur ternak beriwayat PMK. ”Untuk bagian kepala dan mulut harus direbus dulu supaya liurnya tidak menetes. Karena takutnya bekas liur terbawa ke barang-barang yang bisa menularkan ke ternak lain. Nanti malah jadi sumber penularan,” ujarnya.
Begitu pula dengan susu yang dihasilkan ternak perah. Serangan PMK dipastikan tak bepengaruh pada keamanan serta kualitas susu. Kendati demikian, Tutik menyatakan, upaya memutus persebaran PMK yang telah menjangkiti ratusan ternak sapi di Kabupaten Mojokerto terus dilakukan dengan pemberian obat antibiotik, vitamin, hingga vaksinasi.
Dia menambahkan, kasus PMK yang saat ini merebah di berbagai daerah menjangkiti ternak yang belum mendapat vaksin. Hal itu cocok dengan kebanyakan sapi yang mati adalah anakan alias pedet. Sapi yang terkena PMK biasanya tak doyan makan sehingga harus disuapi. ”Mulutnya seperti sariawan. Jadi, nafsu makan turun,” imbuh dia.
Adapun penyebaran penyakit ini, lanjut Tutik, berlangsung secara cepat lewat udara (aerosol) dengan radius hingga 20 kilometer. Selain itu, kontak dengan benda yang terkontaminasi virus juga dapat menyebabkan ternak terinfeksi. ”Kami mengimbau sapi yang sakit dan sehat dipisahkan, serta peternak tidak mendatangi lokasi yang ada sapi terkena PMK karena justru takutnya dari sana ada kotoran atau apa yang bisa menularkan,” tandas dia. (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi