SEMENTARA itu, Kasus kematian sapi akibat penyakit mulut dan kuku (PMK) bertambah. Kini lima ekor sapi di Desa Madureso, Kecamatan Dawarblandong, sudah mati. Akibatnya peternak mengalami kerugian hingga puluhan juta. ”Dalam minggu ini, Selasa, Kamis, dan Minggu, tiga ekor sapi mati di Dusun Gogor,” kata Kepala Desa Madureso Suwarno, kemarin (30/12).
Pada akhir dua pekan lalu, dua pedet di Dusun Guyangan juga mati secara mendadak. Dengan demikian, kini di wilayahnya total sudah lima ekor sapi mati. Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Mojokerto mengonfirmasi hewan-hewan ternak itu mengalami serangan PMK. Tandanya, sapi ambruk beberapa hari dan mengeluarkan liur.
Suwarno mengatakan, sapi yang mati karena terjangkit penyakit menular ini berumur antara 7 bulan sampai 2 tahun. ”Yang umur dua tahun ini kira-kira kalau dijual harganya Rp 17 juta, karena jantan,” jelasnya. Sedangkan empat sapi lainnya memiliki harga terendah di kisaran Rp 8 juta per ekor. Dengan demikian kerugian akibat PMK mencapai puluhan juta.
Di sisi lain, Disperta Kabupaten Mojokerto melakukan pemeriksaan kesehatan untuk mengantisipasi persebaran PMK, termasuk di Desa Madureso. ”Penanganan juga dengan melakukan vaksinasi PMK dan pemberian obat serta desinfeksi,” ungkap Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Disperta Tutik Suryaningdyah, kemarin.
Tak hanya di wilayah dengan kasus kematian, ternak di kecamatan lain yang terindikasi adanya penyebaran penyakit menular itu juga diperiksa. Salah satunya dengan melakukan swab mukosa terhadap sapi dengan gejala PMK. Tutik menyatakan, pengambilan sampel itu menjadi upaya deteksi dini mencegah kematian sapi. (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi