JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Tantrum adalah kondisi ledakan emosi yang sangat umum terjadi pada anak jika keinginannya tidak terpenuhi.
Pada perilaku tantrum, anak akan memaksa orang lain untuk dapat memenuhi apa yang diminta.
Tantrum juga cenderung terjadi pada anak yang tidak mampu berkomunikasi dan mengontrol emosi.
Nyatanya, anak-anak memang lebih emosional dibandingkan orang dewasa.
Tantrum biasanya terjadi pada anak berusia 1-3 tahun. Karena pada rentang usia tersebut, anak-anak masih kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang tuanya.
Sehingga anak-anak belum mampu dengan baik menyampaikan apa yang mereka mau. Tantrum memang normal terjadi pada rentang usia tersebut.
Dan, seharusnya di atas usia 3 tahun anak sudah tidak mengalami tantrum. Anak usia 3-5 tahun lebih agresif bila mengalami tantrum karena luapan emosinya sudah berlebihan.
Sebaiknya tantrum pada anak dihentikan pada usia anak 1-2 tahun.
Ciri-Ciri Anak Tantrum yang Melewati Batas
Frekuensi
Anak yang belum sekolah yang mengalami 10 hingga 20 tantrum dalam sebulan di rumah atau mengamuk lebih dari lima kali dalam sehari selama beberapa hari di luar rumah, berisiko mengalami masalah kejiwaan yang serius.
Durasi
Tantrum lima menit bisa tampak seperti satu hari bagi orang tua. Namun, tanda tantrum pada anak-anak yang terus-menerus terjadi dan berlangsung lebih dari 25 menit mungkin memiliki masalah mendasar.
Anak normal mungkin mengalami tantrum yang berlangsung selama selama satu jam, tetapi yang berikutnya bisa hanya berlangsung selama 30 detik. Anak-anak dengan gangguan kejiwaan ini mengalami tantrum selama 25 menit atau lebih.
Jika anak mengalami tantrum seperti itu, segera ajak mereka untuk melakukan pemeriksaan di psikologi anak atau dokter anak di rumah sakit .
Jika anak mengalami tantrum lebih dari dalam separuh waktu dalam 10 hingga 20 amukan terakhir, itu mungkin menandakan gangguan yang perlu didiskusikan dengan dokter anak.
Agresif
Sikap ini bisa ditunjukkan kepada pengasuh, objek atau keduanya. Jika ini terjadi lebih separuh waktu dalam 10 hingga 20 amukan terakhir, itu mungkin menandakan gangguan yang perlu didiskusikan dengan dokter anak.
Bukan hal yang aneh bagi anak-anak untuk mencoba menendang pengasuhnya karena tidak membelikan es krim. Namun, jika ini terjadi hampir setiap saat, pengasuh juga harus melindungi diri mereka selama tantrum terjadi.
Melukai Diri Sendiri
Anak-anak dengan depresi berat dan anak-anak dengan kondisi kesehatan mental lainnya jauh lebih untuk menggigit diri mereka sendiri, daripada anak-anak yang sehat secara mental.
Tak hanya menggigit sendiri, tanda tantrum yang tergolong melukai diri sendiri adalah membenturkan kepala ke dinding, atau menendang benda-benda dalam upaya untuk melukai kaki mereka. (Mia Chalimatus Syaidah)
Editor : Imron Arlado