DESA Cinandang, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto berhasil menciptakan identitas baru sebagai pusat karnaval budaya kontemporer. Tak hanya melambungkan nama desa ke kancah regional, event akbar dengan teknologi audio yang rutin digelar sejak empat tahun terakhir terbukti mampu mengangkat ekonomi warga desa.
Gagasan brilian Pemerintah Desa (Pemdes) Cinandang dalam memaksimalkan potensi desanya membuahkan penghargaan Jawa Pos Radar Mojokerto Award 2026. Desa di ujung utara Sungai Brantas itu menerima apresiasi kategori Katalisator Ekonomi Desa melalui Seni Budaya Kontemporer.
Penghargaan di bidang inovasi desa ini diserahkan oleh Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto pada malam apresiasi, di Ballroom Sunrise Hotel Mojokerto, Selasa (7/7).
Kepala Desa Cinandang Agus Siswahyudi mengatakan, ide karnaval budaya tahunan di Desa Cinandang berangkat dari semangat melestarikan tradisi kearifan lokal para momen tertentu, seperti sedekah bumi dan peringatan Hari Kemerdekaan RI.
Dari parade busana kreasi, skala event ini bertransformasi lebih besar dan meriah dengan hadirnya pawai audio yang dikenal dengan istilah sound horeg.
”Dengan perkembangan zaman kita harus jemput bola bagaimana event itu akhirnya membawa dampak positif yang di dalamnya ada kegiatan di mana UMKM harus jalan, branding desa harus kena, terus termasuk nantinya dari kegiatan itu bisa menambah pendapatan asli desa,” tuturnya.
Agus mengungkapkan, antusiasme seluruh masyarakat desa yang diwujudkan melalui peran aktif menjadi faktor penting keberhasilan menggelar event seni budaya kontemporer. Warga solid dan kompak berbergotong-royong menyiapkan acara yang secara konsisten digelar dari tahun ke tahun setidaknya sejak 2022 tersebut.
”Dalam setahun akhirnya tidak hanya karnaval, tapi ada gebyar UMKM, dan kegiatan-kegiatan yang lain, seperti cek sound bareng serta sound miniatur yang semuanya itu bermuara pada pendapatan, bermuara pada pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat,” bebernya.
Gebyar UMKM yang berlangsung pada 11-12 Juli 2026 menjadi gelaran terbaru. Di event tersebut, berbagai kelompok sound horeg dari sejumlah daerah di Jawa Timur turut andil. Penontonnya membeludak dari mana-mana. Dagangan warga laris-manis. Pendapatan desa mengalir dari parkir dan biaya masuk.
Keuntungan itu dipakai untuk membangun fasilitas umum desa serta membiayai berbagai program pemberdayaan masyarakat. ”Arahnya adalah bagaimana inovasi karnaval budaya yang diiringi sound-sound besar ini menjadi sarana meningkatkan kesejahteraan warga. Dan, sekarang branding Desa Cinandang juga sudah besar dan bisa bersaing di kancah regional, kalau ngomong karnaval Mojokerto, ya di Cinandang,” ungkapnya. (adi/ris)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto