SELAIN tanaman padi, petani setempat juga mengoptimalkan tanaman palawija jenis jagung dan bawang merah. Sehingga dari sektor pertanian sebagai pendukung program ketahanan pangan ini, pemdes turut menggulirkan infrastruktur pertanian. Yakni melalui pembangunan jalan usaha tani (JUT) di semua dusun.
’’Kami sudah membangun JUT sepanjang 15 kilometer (km). Sekarang tinggal menyisakan 1,7 km di Dusun Wonokerto dan Jelopeto,’’ papar Kepala Desa Warugunung Agus Sudarmaji.
Pembangunan infrastruktur pendukung sektor pertanian bersumber dari Dana Desa (DD) ini menelan Rp 100 juta hingga Rp 300 juta. Selebihnya adalah dukungan dari Bantuan Keuangan (BK) Desa Rp 450 juta sampai Rp 500 juta.
Ia menegaskan, dengan akses pertanian yang mulus dan mudah diakses, kini produktivitas petani terbilang meningkat dari tahun ke tahun. Khususnya bagi gapoktan yang tinggal di Dusun Pamotan, Kepatihan, dan Randegan, sebagai wilayah dengan sentra pertanian padi tertinggi di Desa Warugunung. ’’Hasil setiap kali panen bisa mencapai 210 ton per musim tanam,’’ jelasnya.
Tak sekadar merasakan kemudahan dari sisi infrastruktur, para petani kini juga diuntungkan dengan harga jual gabah kering yang mencapai Rp 7.300 per kg. Sedangkan untuk beras membramu, selama ini para petani dan warga menjualnya ke berbagai market dengan harga Rp 16 ribu per kg.
Penjualan tersebut sebagian besar juga diserap oleh Bulog dalam mendukung program swasembada pangan nasional. ’’Rata-rata memenuhi permintaan lokal. Dan alhamdulillah, beras membramu hasil panen petani kami sangat digemari masyarakat,’’ pungkas Agus. (ris/fen)
Editor : Fendy Hermansyah