DESA Warugunung selama ini juga dikenal sebagai produsen beras tertinggi dengan varietas unggul jenis membramu di Kabupaten Mojokerto. Dukungan lahan pertanian seluas 299 hektare (ha) dari total luas wilayah desa 322 ha, dinilai mampu menghasilkan surplus beras pilihan.
Ketersediaan lahan itu terbagi atas 70 persen tanaman padi, dan sisanya 30 persen jenis palawija. ’’Di wilayah Kecamatan Pacet, desa kami memang terkenal dengan sentra penghasil beras membramu,’’ kata Kepala Desa Warugunung Agus Sudarmaji.
Dia menuturkan, desa berpenduduk 4.091 jiwa dan tersebar di tujuh dusun tersebut, 60 persen di antaranya memang sebagai petani. Mereka tinggal di Dusun Wonosari, Randegan, Kepuhgunung, Jolopeto, Kepatihan, Pamotan, dan Wonokerto. Di mana setiap dusunnya terdapat gabungan kelompok tani (gapoktan) pengolah lahan pertanian produktif. ’’Selebihnya, 40 persen warga bekerja wiraswasta,’’ imbuhnya.
Melihat potensi pertanian yang cukup tinggi, Agus mengaku selama ini pemdes fokus untuk menggulirkan program pertanian bersama BUMDes Gunung Adem. Seperti membantu memberikan bantuan pembelian pupuk kepada gapoktan sesuai dengan RDKK (rencana definitif kebutuhan kelompok) senilai Rp 5 juta per kelompok.
’’Bisa dikatakan dapat memberikan kemudahan bagi para petani untuk mendapatkan pupuk. Makanya, bantuan ini kita berikan untuk menebus pembelian pupuk,’’ tukasnya.
Program ini pun disambut baik gapoktan di setiap dusun. Ketika musim tanam tiba, mereka tak lagi dikeluhkan dengan sulitnya mendapatkan pupuk. ’’Selebihnya jika ada kendala serangan hama, kami mendatangkan petugas BPP (Balai Penyuluh Pertanian) kecamatan,’’ tambahnya.
Petugas BPP juga diminta pemdes mengedukasi sekaligus mendampingi gapoktan, tentang bagaimana cara membuat pupuk dan obat-obatan. ’’Harapannya, supaya gapoktan teredukasi dalam menangani masalah hama dan solusi pembasmiannya,’’ tandasnya. (ris/fen)
Editor : Fendy Hermansyah