’’Mengubah mindset masyarakat itu yang terpenting. Terima kasih kepada para insiator maupun pihak-pihak terkait yang selama ini terlibat dalam pengembangkan Pasar Keramat ini.’’
Agus Sudarmaji
Kepala Desa Warugunung
Pasar Keramat di Desa Warugunung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto kurun empat tahun terakhir ini menjadi magnet kuliner tradisional baru di bumi Majapahit. Hampir 80 persen dari 100-an pedagang jajanan zaman dulu (zadul) dijajakan oleh kaum hawa itu, mampu menggerakkan perekonomian desa. Dalam sekali operasional pada setiap penanggalan Jawa, Minggu Kliwon dan Wage, pasar di bawah rimbunnya hutan bambu tersebut mampu meraih omzet hingga Rp 100 juta lebih.
KEPALA Desa Warugunung Agus Sudarmaji menuturkan, Pasar Keramat yang resmi di-launching pada 2022 tersebut, kini sukses mengharumkan nama Desa Warugunung hingga kancah nasional. Berkat konsep yang digagas para pemuda dan keterlibatan elemen masyarakat desa, pasar dikenal unik dan nyeni itu pun sukses meningkatkan kesejahteraan warga melalui perputaran ekonomi.
’’Memang, minat wisatawan terhadap Pasar Keramat sekarang cukup tinggi. Setiap kali buka, hampir semua kuliner yang dihadirkan pedagang habis terjual,’’ ungkapnya.
Agus menuturkan, keterlibatan masyarakat dalam mengembangkan pasar yang menggunakan uang gobog sebagai alat transaksi itu sejatinya tidaklah mudah. Apalagi, di dalam lahan milik warga ini terdapat beberapa makam. Sehingga dalam perjalanan pengembangan, dibutuhkan edukasi dan persuasif yang mengakar kepada masyarakat. Utamanya terkait menjaga kebersihan, pemanfaatan ekosistem hutan bambu berbasis kelestarian, dan pemahaman unsur kebudayaan.
’’Memang, dulu lokasi itu jadi tempat membuang sampah dan kumuh. Namun, perlahan masyarakat berhasil menyulapnya menjadi tempat bernilai ekonomis,’’ imbuhnya.
Berkat kesadaran bersama, saat ini tidak ada lagi yang membuang sampah sembarangan. Semua saling menjaga, melestarikan, hingga memanfaatkan bambu dengan baik, tanpa memengaruhi ekosistem. ’’Mengubah mindset masyarakat itu yang terpenting. Terima kasih kepada para insiator maupun pihak-pihak terkait yang selama ini terlibat dalam pengembangkan Pasar Keramat ini,’’ paparnya.
Pihak yang dimaksud Agus adalah kelompok masyarakat pengelola Pasar Keramat dan Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL). Berkat pemahaman yang sama, pasar yang kerap menghadirkan menghadirkan penampilan kesenian dan budaya ini, perlahan kian berkembang dan dikenal luas.
Agus mengatakan, kendati tidak di bawah naungan BUMDes, namun Pasar Keramat ini mampu membangkitkan pelestarian, nilai kebudayaan, hingga perekonomian. ’’Untuk sekali buka hasil omzetnya bisa mencapai Rp 100 juta lebih. Itu didapat dari penjualan kuliner dan pengelolaan parkir,’’ paparnya.
Sistem pengelolaan manajemen yang diterapkan juga tertata dengan baik dan transparan. Agus menyatakan, hampir 80 persen dari total 100 pedagang adalah perempuan dengan latar belakang dan usia beragam. ’’Ini yang membuat kami bangga, peran perempuan di Pasar Keramat ini mampu menjadi lokomotif penggerak ekonomi desa,’’ jelasnya.
Peran Strategis Pemerintah Desa
Untuk menunjang pengembangan Pasar Keramat, Agus menyatakan, selama ini pemdes selalu turun langsung memberikan support system. Melalui pembenahan infrastruktur hingga peningkatan sumber daya masyarakat (SDM). Di antara yang sudah dijalankan adalah membangun sarana prasarana (sarpras) lingkungan.
’’Dulu di gang-gang kecil menuju Pasar Keramat tampak jelek, kini sudah kita perbaiki. Sudah bisa dilalui kendaraan, termasuk untuk pemanfaatan lahan parkir,’’ paparnya.
Pemdes turut mengedukasi dan berperan aktif memberikan pendampingan bilamana terdapat kendala. Baik yang melibatkan internal maupun kelompok usaha. Dengan demikian, segala bentuk kendala yang dihadapi dapat tercapai mufakat dengan mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan kerukunan demi tujuan utama, yakni asas kemanfaatan hingga kesejahteraan masyarakat. ’’Tentunya, melalui forum musyawarah mufakat dengan mengundang tiga pilar: kades, babinsa, dan bhabinkamtibmas,’’ imbuhnya.
Jadi Perhatian Kementerian PPPA
Perlahan tapi pasti. Pasar Keramat di Dusun Wonokerto ini seketika menyita perhatian berbagai kalangan. Termasuk Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto, perusahaan swasta, hingga Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). Wakil Menteri PPPA Veronica Tan menyempatkan hadir mengunjungi langsung Pasar Keramat pada Desember 2025 lalu. Setelah melihat segala potensi yang ada, ia lantas menekankan pentingnya kesetaraan dan penghargaan terhadap peran perempuan.
Veronica juga mengajak wisatawan/pengunjung yang hadir untuk merenungkan jasa seorang ibu sebagai sumber kehidupan. ’’Saya ingin tulus dari dalam hati, bersama-sama memberikan apresiasi, penghargaan, doa kita kepada mama kita. Karena semua, kita, ada di sini, berkat rahim seorang perempuan. Mari kita renungkan sejenak dan ucapkan terima kasih dari dalam hati kita kepada mama kita semua,’’ katanya saat itu. (ris/fen)
Editor : Fendy Hermansyah