’’Meski ada dua wisata berbeda, namun satu sama lain tidak saling bersaing.’’
Muktar Efendi
Kepala Desa Kembangbelor
Desa Kembangbelor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto tak sekadar sukses menjalankan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Desa berpenduduk 2.532 jiwa ini terbilang brilian dalam menangkap potensi sumber daya alam (SDA). Mampu menjalankan bisnis kreatif dari dua objek wisata keluarga, yakni Bernah De Vallei dan Klurak Eco Park.
’’WISATA ini sekaligus untuk menggali potensi alam yang ada di sekitar desa,’’ ungkap Kepala Desa Kembangbelor Muktar Efendi. Objek wisata memanfaatkan lahan Perhutani seluas 31,8 hektare (ha) tersebut murni dibangun masyarakat secara mandiri di bawah naungan CV Bernah De Vallei. ’’Pengelolaan sistem anggarannya melalui hasil tanam modal masyarakat. Bukan di bawah naungan BUMDes,’’ imbuh Muktar.
Berkat kepiawaian warga dalam membaca potensi alam, skema penanaman modal tersebut digulirkan pada tahun 2020. Hasilnya, dari tanam modal berbasis swadaya dengan nilai Rp 1 juta per KTP ini, mampu terkumpul sebesar Rp 1,283 miliar. Dengan ketentuan, nilai tanam modal per KTP maksimal 15 lembar. ’’Artinya, tanam modal yang ada saat itu sebanyak 1.283 lembar,’’ tandasnya. ’’Oleh masyarakat kemudian kita manfaatkan untuk membangun wisata Berhan De Vallei,’’ imbuhnya.
Sehingga semua modal usaha kreatif di lahan seluas 19,8 ha itu, lanjut Muktar, tak sedikitpun menggantungkan sumber anggaran dari APBDes, APBD, maupun APBN. Dalam rentan waktu yang tak lama, wisata desa di bawah rindangnya hutan pinus ini disulap menjadi jujukan wisatawan dari berbagai daerah.
Di samping menghadirkan kesejukan pesona alam pegunungan, hasil tanam modal masyarakat juga dimanfaatkan untuk melengkapi sarana prasarana (sarpras) dan mendatangkan ragam wahana. Seperti membangun kolam renang, taman kelinci, taman Dino, rainbow slide, playground, hingga zona glamping. ’’Kurang lebih ada 15 wahana. Karena konsepnya memang dibuat untuk wisata keluarga,’’ imbuhnya.
Perlahan tapi pasti. Kurun enam tahun berjalan, wisata desa di sekitar Pondok Pesantren Amanatul Ummah tersebut terus berkembang. Dengan tiket masuk Rp 7 ribu per orang/wisatawan, nilai omzet yang diraih per tahun saat ini tercatat mencapai kisaran Rp 3,8 miliar. ’’Hasil itu diperoleh dari penjualan tiket, wahana, dan lain-lain,’’ tambahnya. Sedangkan untuk parkir kendaraan, selama ini sistem pengelolaannya menjalin kemitraan dengan BUMDes Rukun Sejahtera. Sementara untuk kebutuhan bahan pokok maupun elpiji bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam objek wisata, semua disuplai dari koperasi desa (kopdes).
Sukses membuka Bernah De Vallei, pengurus dan jajaran direksi CV Bernah De Vallei lantas mengembangkan usaha baru berkonsep serupa bernama Klurak Eco Park. Tidak jauh dari objek wisata pertama, Klurak Eco Park di atas lahan seluas 12 ha tersebut juga berdiri berkat hasil tanam modal masyarakat. Nilai modal saat itu terakomodir menembus angka Rp 1,2 miliar atau setara dengan 1.200 lembar.
Omzet Klurak Eco Park ini juga tak kalah tinggi dengan Bernah De Vallei, rata-rata mendulang pendapatan Rp 3,6 miliar per tahun. ’’Meski ada dua wisata berbeda, namun satu sama lain tidak saling bersaing,’’ pungkas Muktar. (ris/fen)
Editor : Fendy Hermansyah