Pemerintah Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, menggelar upacara adat keleman, Minggu (12/4). Tradisi ini menjadi sarana petani mengungkapkan rasa syukur sekaligus harapan agar tanaman padi terhindar dari hama dan mendapat hasil panen yang melimpah.
PENJABAT Kepala Desa Seloliman Sucipto menjelaskan, ritual keleman digelar saat tanaman padi mulai berisi. Momen tersebut terjadi sekitar 60 hari setelah tanam. Tradisi keleman juga dikenal dengan istilah tingkeban Dewi Sri alias syukuran hamilnya Dewi Sri. ’’Ini bentuk uri-uri budaya peninggalan leluhur sebagai kearifan lokal,’’ tuturnya, kemarin (14/4).
Sucipto mengatakan, dari seluruh lahan pertanian di Seloliman, hanya 40 persen yang ditanami padi pada musim tanam kali ini. Sedangkan 60 persen lainnya masih dibiarkan bera.
Kondisi itu terjadi lantaran tingginya serangan hama tikus hingga menghabiskan tanaman jagung pada musim tanam sebelumnya. ’’Dari realitas itu masyarakat berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa melalui leluhur desa dengan upacara adat keleman ini,’’ ungkapnya.
Upacara keleman diikuti seluruh petani desa dengan pusat kegiatan di Punden Mbah Kereto Djoyo dan Mbah Sembujo di Dusun Sempur. Dipimpin ketua adat, masyarakat membawa tumpeng dari kawasan Wisata Sumber Bagong menuju lahan pertanian yang sudah ditentukan.
Arak-arakan kemudian dilanjutkan ke punden untuk menggelar tahlil dan doa bersama. Kegiatan disambung dengan purakan tumpeng dan makan bareng lalu diakhiri dengan gelaran hiburan bantengan.
’’Upacara adat ini sebelumnya diselenggarakan masyarakat secara mandiri, masing-masing petani. Selama ini belum pernah terkoordinir difasilitasi pemerintah desa. Jadi ini yang pertama dan rencananya akan menjadi agenda tahunan,’’ tutur Sucipto.
Melalui upacara keleman yang digelar secara bersama-sama, masyarakat berharap doa yang dipanjatkan bisa lebih mustajab. Sucipto mengungkapkan, ritual keleman memiliki makna sebagai ungkapan rasa syukur petani karena tanaman padinya sudah bunting.
Harapannya, sejak bulir terisi hingga masa panen nanti tiba, tanaman tubuh subur dan terhindar dari hama penyakit serta hasilnya memuaskan. ’’Semoga kualitasnya baik, kuantitasnya juga banyak, harganya juga mahal,’’ harapnya. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah