MANUSIA pada dasarnya adalah mahluk sosial yang mampu bertahan hidup dan mengembangkan diri sesuai kondisi alam sekitar. Nah, dengan menggunakan konsep pelestarian alam, Pasar Keramat, Desa Warugunung, Kecamatan Pacet, ini bertujuan untuk meningkatkan taraf ekonomi sekaligus menjaga nilai kebudayaan masyarakat.
Demikian itu diungkapkan tim dosen arsitektur Fakultas Industri Kreatif Universitas Ciputra (UC) dalam Program Pengabdian Masyarakat (LPPM). Di antaranya Ir. Gervasius Herry Purwoko, MT; Dr. Lya Anggraini, ST; Dr. Stephanus Evert Indrawan, ST, MA; dan Dr. Tri Noviyanto P. Utomo, S.Sn, M.MT.
Kegiatan pelatihan pengembangan di Pasar Keramat ini sudah berlangsung sejak November 2025 lalu. Tujuannya, agar masyarakat mampu mengelola dan mengembangkan potensi dalam dirinya dengan modal dasar budaya Jawa dan alam sekitarnya berupa hutan bambu.
’’Masyarakat yang berdomisili di sekitar Pasar Keramat, Desa Warugunung, Kecamatan Pacet, punya budaya tradisi Jawa pedesaan ditambah bentang alam berupa sawah dan hutan bambu. Maka, UC sebagai lembaga pendidikan sangat peduli terhadap terbentuknya masyarakat yang entrepreneurial ini,’’ terang Gervasius Herry Purwoko, salah satu tim dosen.
Dia menyarankan agar pengembangan masyarakat diarahkan lebih pada eksplorasi budaya masyarakat Jawa pedesaan dengan berbagai pendukungnya. Sekaligus sebagai langkah awal, di mana masyarakat telah memulai dengan Pasar Keramat yang berfungsi sebagai ajang pamer masyarakat dan akan disusul dengan berbagai pengembangan wadah budaya lainnya.
’’Bisa meliputi belajar boso (bahasa), tari, memasak, penginapan atau resort, dan lainnya,’’ tambah Lya Anggraini, salah satu dosen sekaligus anggota tim LPPM.
Dalam pengembangan kawasan Pasar Keramat ini terjadi interaksi dua arah. Dosen memberi pelatihan tentang pengembangan kawasan, teknologi dan konstruksi bambu, serta sustainable architecture berbasis lingkungan, agar masyarakat lebih mengenal dan dapat menerapkan.
Bagi para dosen, kegiatan ini dinilai sekaligus sebagai ajang validasi oleh masyarakat terhadap metode pembelajaran di kampus, apakah telah sesuai dengan ekspektasi masyarakat atau belum. ’’Kegiatan ini juga diikuti oleh mahasiswa sekaligus mereka belajar budaya masyarakat setempat. Yaitu, berupa teknik anyaman bambu,’’ pungkasnya. (oce/ris)
Editor : Fendy Hermansyah