Ketahanan pangan masih menjadi prioritas utama pembangunan di Desa Sambiroto, Kecamatan Sooko. Melalui budi daya domba, masyarakat didorong mampu meningkatkan produktivitas hewan ternak tersebut setiap tahunnya. Dengan produktivitas yang meningkat, diharapkan taraf ekonomi masyarakat turut melonjak.
Untuk merealisasikan hal itu, Pemerintah Desa (Pemdes) Sambiroto menggelontorkan tak kurang dari Rp 200 juta dana desa (DD) di tahun anggaran 2025. Anggaran sebesar ini nantinya digunakan untuk membangun 20 kandang komunal serta mendatangkan 40 ekor indukan domba.
Sesuai mekanisme, proses pengembangbiakan akan berjalan melalui sistem bagi hasil antara badan usaha milik desa (BUMDes) dengan kelompok masyarakat (pokmas). Tak kurang dari 20 warga dari dua pokmas siap menjadi mitra kerja untuk budi daya domba selama setahun ke depan.
Mereka akan menjadi peternak yang siap menghasilkan hingga ratusan anakan domba. ”Kami memakai sistem bagi hasil dengan pokmas. Kami melibatkan masyarakat agar sama-sama bertanggung jawab menyukseskan program ketahanan pangan yang bermanifestasi pada peningkatan ekonomi masyarakat,” ungkap Kepala Desa Sambiroto Ahmad Farid Ainul Alwi.
Sesuai prakiraan, program peternakan domba ini efektif mulai berjalan awal tahun 2026. Dengan estimasi panen bisa dua kali dalam setahun. Nantinya, warga akan mendapat bagi hasil berupa anakan domba sekali, sedangkan sisanya akan dibagi dengan BUMDes.
Untuk menyuplai pakan, pemdes juga menyediakan lahan untuk produksi pakan ternak. Yakni, dengan memanfaatkan tanah kas desa (TKD) yang akan ditanami rumput gajah dan beberapa jenis tanaman hijau lainnya. ”Satu ekor domba hasil peranakan bisa dijual antara Rp 1,2 juta hingga Rp 1,5 juta. Dalam satu tahun, satu ekor indukan domba bisa menghasilkan 2 sampai 3 kali anakan domba,” pungkasnya. (far/ris)
Editor : Hendra Junaedi