Kesehatan itu sangat penting. Apalagi berkaitan dengan keseimbangan gizi, terutama pada balita dan ibu hamil. Atensi terhadap dua lapisan masyarakat yang rentan itu ternyata juga diberikan oleh Desa Ngrowo, Kecamatan Bangsal.
PEMERINTAHAN Desa Ngrowo sangat getol melakukan sosialisasi perihal kesehatan ibu hamil dan bayi tersebut. Itu tak lepas dari prioritas utama pemdes yakni menggencarkan upaya pencegahan hingga penanggulangan stunting alias tengkes.
’’Memang benar. Untuk masalah stunting itu menjadi salah satu penanganan prioritas Pemerintah Desa Ngrowo,’’ kata Kepala Desa Ngrowo, Siti Maidah, SH. Bunda Lurah-sapaan akrabnya-menjelaskan, untuk mengatasi dan memberikan pengertian mengenai stunting itu dilakukan secara berkala. Tiap seminggu sekali pihaknya menggaungkan sosialisasi mengenai stunting kepada masyarakat.
Lebih jauh, pihaknya menyebutkan, sosialisasi digenjot bagi kalangan ibu hamil. Namun, kian kemari pihaknya juga menyasar kalangan muda yakni kalangan muda-mudi sebelum menikah diberikan sosialisasi dan pembinaan terkait stunting. ’’Jadi setelah menikah mereka juga sudah mempunyai basic pengetahuan akan hal itu,’’ imbuh Bunda Lurah.
Pihaknya merinci, sosialisasi mengenai stunting disampaikan secara menyeluruh. Misalnya menyentuh terkait mental, kesehatan lahir batin, keseimbangan gizi. Untuk narasumbernya pun berbeda-beda, mulai dari petugas KUA, petugas lapangan keluarga berencana (PLKB) kecamatan, hingga bidan desa. ’’Untuk pemateri memang harus kami sesuaikan dengan dinas terkait,’’ terangnya.
Bunda Lurah menuturkan, dalam kegiatan sosialisasi terkait stunting, peserta kegiatan akan diberikan susu dan vitamin. Pihaknya berharap masyarakat mengerti, paham dan sadar mengenai stunting agar ibu hamil dan balita serta anak-anak sehat. ’’Intinya Pemdes Ngrowo ingin masyarakatnya sehat semua dan bisa merasakan semua program yang dilaksanakan Pemdes Ngrowo,’’ ungkapnya.
Kasi Kesra Desa Ngrowo Akbar Panji Kusuma Ramadhan, menambahkan, peserta yang mengikuti ada penyuluhan mengenai stunting sangat antusias. Mereka sangat aktif dan getol dalam kegiatan. ’’Tiap pertemuan ada sekitar 30 peserta yang ikut. Jadi ada sekitar 120 peserta jika dilakukan 4 kali dalam sebulan,’’ pungkasnya. (dik/fen)
Editor : Hendra Junaedi