Salah satu upaya meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian desa dengan memberdayakan masyarakat. Di Desa/Kecamatan Sooko, puluhan ibu-ibu dan remaja turut diberdayakan dalam mengembangkan minat dan bakatnya. Lewat Rumah Belajar Al Ihsan, kemampuan kaum perempuan ini terus dibangkitkan melalui program-program pelatihan soft skill.
Diprakarsai Gusdurian Mojokerto, Fatayat NU, Muslimat NU, dan kelompok masyarakat (Pokmas) Liga Desa Sooko, Rumah Belajar ini telah aktif memberdayakan para perempuan di Dusun Sooko setahun belakangan. Mereka dilatih dan didampingi langsung para volounter sesuai potensi dan bakat masing-masing.
Seperti pembuatan buket bunga, pelatihan marketplace, pelatihan konten kreator, hingga pengelolaan administrasi dan keuangan. Tak jarang puluhan kaum hawa ini juga dibantu dalam memasarkan produk unggulannya. Termasuk diberikan bantuan permodalan agar bisa memulai usahanya secara mandiri. ’’Rumah Belajar ini didirikan agar warga dapat mengembangkan diri menjadi lebih mandiri sesuai potensi dan bakatnya. Fokus kami lebih kepada kaum perempuan dan anak-anak,’’ ungkap Koordinator Gusdurian Mojokerto M. Kholilulloh, kemarin.
Tidak hanya pengembangan soft skill, Rumah Belajar juga difungsikan sebagai tempat ramah anak. Di mana, ratusan pelajar mulai dari tingkat SD hingga SMA ini turut didampingi aktivitasnya. Tak jarang, mereka juga ikut didampingi saat jam belajar. Tujuannya, tak lain untuk menghindarkan mereka dari perilaku negatif. ’’Kami ada program les gratis dan pendampingan bermain di sore hari untuk usia pelajar,’’ tambahnya.
Kepala Desa Sooko, Heppy Iswahyudi menambahkan, keberadaan Rumah Belajar sangat membantu pemerintah desa dalam menciptakan suasana desa menjadi damai dan sejahtera. Meski baru setahun berdiri, namun dampaknya sudah bisa dirasakan. Bahkan, dirinya meminta agar Rumah Belajar bisa berkembang di dusun lainnya.
Dengan keterlibatan Rumah Belajar, diharapkan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat Desa Sooko bisa terwujud. ’’Mungkin tahun depan bisa dikembangkan ke Dusun Mengelo, dengan program-program yang menyesuaikan kearifan lokal,’’ tandasnya. (far/ris)
Editor : Hendra Junaedi