Pertanian organik masih menjadi program andalan yang terus dikembangkan Pemerintah Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas. Tidak hanya beras organik, pemdes juga berencana membudidayakan padi merah atau beras merah di sawah-sawah warga.
BEKERJA sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), beras merah hasil panen nantinmya akan dipasarkan di sejumlah supermarket dan resto di Jawa Timur. Mulai Januari nanti, benih beras merah mulai ditebar di 10 hektare sawah milik warga. Termasuk pada 2 hektare sawah di kebun organik Wisata Agro Lembah Kecubung. ’’Saat ini sudah memasuki masa panen untuk padi organik yang sudah berjalan setahun belakangan. Setelah itu, kami mulai uji coba tanam padi jenis beras merah di sawah warga,’’ ungkap Kepala Desa Penanggungan, Tarji kemarin.
Tak berbeda jauh dengan padi biasa, benih padi merah yang dikembangkan nantinya juga akan menerapkan sistem organik. Penggunaan pupuk kandang hingga pestisida alami bakal mendominasi selama empat bulan masa tanam. ’’Untuk pupuk sudah disediakan dari peternakan warga. Sawah-sawah saat ini sudah sehat, sehingga hanya butuh pupuk kompos, kandang dan pestisida dari sari buah saja,’’ imbuhnya.
Selain padi, pemdes juga mengembangkan budi daya sayuran organik di rumah-rumah warga. Bekerja sama dengan perkumpulan Brenjonk sebagai fasilitator, aneka sayuran seperti tomat, terong, cabai, bayam hijau, sawi, pakcoy hijau, pakcoy putih, hingga kangkung menunjukkan hasil yang memuaskan. ’’Untuk sayuran, kami mengandalkan tenaga ibu-ibu untuk bercocok tanam menggunakan pot di pekarangan rumahnya masing-masing,’’ imbuhnya.
Dari hasil itu, beberapa sayuran yang dipanen telah dipasarkan dan menembus pasar supermarket. Pun demikian dengan beras merah, pemdes juga menargetkan mampu menembus supermarket, resto hingga hotel berbintang di Mojokerto. Sehingga nilai jual tinggi yang ditawarkan dari beras merah premium tersebut mampu mendongkrak perekonomian warga. ’’Harga jual beras merah premium lumayan tinggi, bisa tembus Rp 30 ribu sampai Rp 35 ribu per kilogram (kg),’’ pungkasnya. (far/fen)
Editor : Hendra Junaedi