Berada di dataran tinggi Kabupaten Mojokerto, Desa/Kecamatan Trawas memiliki pesona alam yang memikat. Kelebihan itu terus dimaksimalkan dengan mengembangkan berbagai wisata kuliner hingga edukasi yang mampu mendongkrak perekomian warga.
Kepala Desa Trawas Wulyono mengatakan, pengembangan objek wisata dilakukan dengan memperhatikan potensi dan nilai kebudayaan di tengah masyarakat. Seperti Cafe Paseban Agung yang tak hanya menawarkan konsep restoran keluarga dengan berbagai fasilitas. Namun, juga mengangkat tema etnik Jawa dan Majapahitan. ”Cafe Paseban ini terus kami tata dan sempurnakan, sehingga bisa mendukung pendapatan desa,” ujarnya.
Selain wisata buatan, desa dengan tiga dusun ini juga memiliki modal panorama alam yang bisa menjadi objek wisata tersendiri. Desa ini diapit tiga gunung. Di antaranya, Gunung Penanggungan, Arjuno, dan Welirang. Salah satu wisata ketinggian yang tengah dikembangkan adalah Bukit Songkro. Bukit yang berada 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini digadang-gadang jadi ikon baru wisata berbasis kamping dan olahraga paralayang. ”Kami mengharapkan paralayang jadi spot andalan. Ini masih terus kita upayakan untuk izin-izinnya,” terang Wulyono.
Pengembangan wisata tak lepas dari peran BUMDes Argo Mulyo, Desa Trawas. Selain unit usaha wisata, badan usaha ini juga mengelola air minum desa, sampah, hingga simpan pinjam dan kemitraan. ”Kami juga mengelola TPS3R (tempat pengolahan sampah reuse, reduce, dan recycle) untuk memproduksi pupuk kompos dari sampah organik. Insya Allah mulai tahun depan kami rintis jadi wisata edukasi pengelolaan sampah,” bebernya. (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi