Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Standar Perkebunan Kelas Dunia

Rizal Amrulloh • Minggu, 29 September 2024 | 14:15 WIB
DIMINATI WISATAWAN: Dosen IPB Dian Herawati mencicipi kopi arabika hasil roasting dan olahan usai dipanen petani, di Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas.
DIMINATI WISATAWAN: Dosen IPB Dian Herawati mencicipi kopi arabika hasil roasting dan olahan usai dipanen petani, di Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas.

DESA dengan tiga dusun ini juga dikenal sebagai penghasil kopi jenis arabika terbaik. Termasuk, mampu menyulap kulit kopi hasil olahan menjadi teh berkualitas satu. Lahan perkebunan kopi milik desa yang pernah meraih penghargaan Desa Wisata Terbaik dari Kemenparekraf Tahun 2023, ini berada di lereng Gunung Arjuno-Welirang.

Sehingga, tidak heran jika banyak pihak yang memberikan perhatian terhadap kopi arabika di bawah binaan Pemdes Ketapanrame tersebut. Selain pemerintah dan swasta, baru-baru ini, Institut Pertanian Bogor (IPB) mengunjungi langsung areal perkebunan dan pengolahan kopi. Mereka melakukan riset terkait proses pertanian, pengolahan, hingga kualitas rasa dan manfaat kopi. ’’Hasil tanam kopi di sini cukup ranum dan buahnya besar-besar. Artinya, tanaman-tanaman kopi di sini cukup ternutrisi dengan baik,’’ jelas Dosen IPB Dian Herawati.

Menurutnya, perkebunan kopi di Desa Ketapanrame tersebut memang cukup potensial. Terlebih, di tengah harga kopi komersial dunia saat ini sedang melangit Dian menilai tanaman kopi tersebut sudah memenuhi standar perkebunan kelas dunia. Karena ditanam oleh petani di atas ketinggian 1.100 mdpl pegunungan Arjuno-Welirang. ’’Dipelihara dengan baik, yang bisa dicirikan dengan peremajaan. Setelah 10 tahun ditanam lalu diremajakan. Sehingga tanaman tidak melebihi ketinggian untuk jenis kopi-kopi komersial,’’ tandasnya.

Semua lahan perkebunan kopi jenis arabika ini ditanam dan dikelola sendiri oleh warga yang tergabung dalam gabungan kelompok petani (gapoktan) kopi. Juli lalu mereka melakukan aktivitas panen atau petik buah kopi. Buah kopi yang dipanen adalah untuk biji kopi yang ranum, berwarna merah atau kering di pohon.

Ketua Gapoktan Kopi Desa Ketapanrame Wahyu Sanyoto menuturkan, kualitas hasil panen kopi arabika tahun ini terbilang cukup bagus dibanding musim panen sebelumnya. Dia menyebut, berkat panen yang melimpah petani bahkan mampu memanen kopi antara 2 hingga 3 ton per 1 hektare. ’’Sekarang panennya melimpah. Alhamdulillah, kami banyak untung, karena kualitas hasil panen sangat bagus,’’ terangnya.

Selama musim panen tersebut, rata-rata petani mampu menghasilkan kopi antara 5 hingga 7 kuintal per orang. Oleh petani biji-biji kopi kemudian dijual dengan harga Rp 150 ribu per kilogram. Kopi-kopi tersebut diolah, dan sebagian dijual di pasaran sudah dalam bentuk bubuk kopi siap seduh. (ram/ris)

Editor : Hendra Junaedi
#trawas mojokerto #kopi arabica #ketapanrame