Pengembangan UMKM merupakan salah satu kekuatan pendorong terdepan dalam pembangunan ekonomi di desa. Sebagai upaya pemberdayaan ekonomi lokal, Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari getol mengoptimalkan usaha produksi keripik usus.
Tepatnya di Dusun Sememi dan Bangsri. Dua dusun itu kini menjadi sentra usaha tersebut. Kepala Desa Modopuro Imron Wahyudi mengatakan, ada sekitar 46 industri rumah di dua dusun tersebut yang kini bergerak di bidang pengolahan produksi keripik usus. ’’Usaha ini terus berkembang, dan sudah terbentuk paguyubannya. Semua produk mereka sudah mengantongi sertifikat halal,’’ kata dia, kemarin.
Imron menuturkan, keripik usus ini diproduksi setiap hari, kecuali hari Minggu. Lalu, dipasarkan ke masyarakat sekitar. Selebihnya ada yang dipasok ke warung dan dikulak pengepul. ’’Sudah banyak pelanggannya dari wilayah sekitar Mojosari, karena memang jadi sentra. Salah satu industri rumahan yang terbesar ya milik Bu Azizah di Dusun Sememi,’’ paparnya.
Dia menjelaskan, produksi keripik usus melalui berbagai tahapan. Mulai dari pembersihan dan perebusan, kemudian dipilah lagi dari bahan tak layak, proses racik bumbu, serta penggorengan dan pengemasan. ’’Untuk usus yang tidak digunakan atau sisa-sisanya kita jadikan pakan lele. Kolam pakan lele ini juga jadi salah satu usaha BUMDes Modopuro,’’ sebut dia.
Menurut Imron, menjamurnya usaha produksi keripik usus memberikan harapan baru bagi kebangkitan ekonomi masyarakat. Buktinya, keterserapan tenaga kerja juga terpenuhi berkat industri rumahan tersebut. ’’Alhamdulillah, keterserapan tenaga kerjanya bahkan sudah menjangkau warga dari desa sekitar Modopuro juga,’’ beber dia.
Dia berharap, inovasi tersebut harus terus dilakukan untuk menaikkan nilai ekonomi keripik usus sebagai produk unggulan di Desa Modopuro. ’’Kami berkeyakinan, jika terus dikembangkan dan dikelola secara baik, nantinya bisa maju dan bisa berkelanjutan. Keripik usus ini menjadi alternatif pilihan. Dan semoga bisa menjadi primadona atau produk unggulan dari pengembangan Desa Modopuro,’’ pungkasnya. (oce/ris)
Editor : Hendra Junaedi