Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kembangkan Komoditas Kopi Jadi Wisata Edukasi

Rizal Amrulloh • Selasa, 25 Juni 2024 | 14:00 WIB
POTENSI ALAM: Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati saat memanen kopi yang ditanam di lereng Gunung Welirang, Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Minggu (23/6).
POTENSI ALAM: Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati saat memanen kopi yang ditanam di lereng Gunung Welirang, Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Minggu (23/6).

DESA Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto terus mengembangkan destinasi wisata.

Selain potensi alam dan kuliner, komoditas kopi yang tumbuh subur di lereng Gunung Welirang kini juga dijadikan sebagai wisata edukasi.

Kepala Desa Ketapanrame Zainul Arifin mengungkapkan, tanaman kopi di desanya ditanam di lahan hutan produksi milik Perhutani.

Dengan luas sekitar 67 hektare, perkebunan kopi yang ditanam pada ketinggian di atas 1.100 mdpl (meter di atas permukaan laut) ini cukup produktif. ’’Hasil panen sekitar 40-50 ton per tahun.

Jika dikelola secara serius, masih bisa ditingkatkan lagi mencapai 100 ton per tahun,’’ tandasnya.

Minggu (23/6), Bupati Ikfina Fahmawati menghadiri tasyakuran petik kopi yang digelar di Pondok Karhutla, Desa Ketapanrame.

Arifin menuturkan, agenda tahunan tersebut sekaligus menjadi penanda memasuki masa panen raya kopi. ’’Untuk jenis kopinya rata-rata 90 persen kopi arabika dan 10 persen robusta,’’ jelasnya.

Seluruhnya dikelola Kelompok Tani Hutan ( KTH) Mugo Lestari. Dia menyebut, keberadaan perkebunan kopi tersebut menjadi salah satu penunjang perekonomian masyarakat. Karena, jumlah petani kopi mencapai 280 orang.

Dan, kopi juga menjadi salah satu komoditas unggulan dari Desa Ketapanrame. Menurut Arifin, hasil panen selama ini telah berhasil merambah pasar dalam negeri, baik di lokal Mojokerto sendiri maupun beberapa daerah lainya.

Seperti Kota Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, bahkan hingga Solo, Yogyakarta dan beberapa wilayah lainnya.

’’Rata-rata untuk konsumen pemilik kafe, makanya kebanyakan mengambil yang green bean atau biji kopi mentah yang belum disangrai,’’ tandas Arifin.

Dia menuturkan, kopi hasil penanaman di lereng Gunung Walirang memiliki ciri khas tersendiri. Yakni memiliki cita rasa fruity yang kuat.

’’Kopi Ketapanrame ada perpaduan rasa asam dan manis-manis buah yang cukup dominan. Ini yang menjadi ciri khasnya dibanding dengan kopi-kopi yang lain,’’ urainya.

Tak hanya itu, Desa Ketapanrame juga mengembangkan perkebunan kopi menjadi bagian dari paket wisata desa. Selain berkunjung ke Taman Ghanjaran, Sumber Gempong, dan Air Terjun Dlundung, wisatawan juga bisa mendapat pengalaman seru dengan wisata edukasi kopi.

’’Tamu wisata yang berkunjung ke kebun kopi akan mendapat edukasi mulai dari proses perawatan, pemanenan, hingga pengolahan. Wisatawan juga mendapat buah tangan untuk oleh-oleh,’’ pungkas dia. (ram/fen)

Editor : Hendra Junaedi
#kabupaten mojokerto majapahit #bupati ikfina fahmawati #trawas mojokerto #destinasi wisata #Panen Kopi #ketapanrame