SELAIN wisata sejarah, Desa Sentonorejo di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, memiliki potensi besar dalam bidang wisata religi.
Di antaranya yang populer dan banyak dikunjungi adalah Makam Troloyo. Pemdes setempat berencana mengusulkan ke pemda agar kompleks pemakaman muslim dari era Kerajaan Majapahit itu bisa dikelola secara mandiri.
Dalam catatan sejarah, Makam Troloyo merupakan kuburan khusus pemeluk agama Islam di zaman Majapahit yang eksis pada abad ke-13 hingga ke-16.
Namun tak setiap muslim dikuburkan di tempat ini. Makan Syekh Jumadil Kubro menjadi ikon dari kompleks pemakaman kuno yang terletak di Dusun Kedaton, Desa Sentonorejo, itu.
Keberadaan makam kakek para Walisongo tersebut banyak menarik peziarah dari berbagai daerah.
Setiap hari, tak kurang dari ratusan bahkan ribuan orang hilir mudik mendatangi kompleks wisata religi yang dibangun sejak 1980-an itu.
Tingginya tingkat kunjungan yang secara otomatis membawa potensi ekonomi besar membuat Pemdes Sentonorejo berupaya agar bisa mengelola Makam Troloyo.
Mengingat saat ini pengelolaannya berada di tangan Pemkab Mojokerto. ’’Kami sebenarnya ingin Makam Troloyo itu dikelola desa sendiri, biar menjadi desa mandiri, setelah ini kami ajukan ke bupati,’’ ujar Kepala Desa Sentonorejo Shodiq.
Menurutnya, rencana itu berdasarkan kehendak warga. Selain bisa mendongkrak pendapatan asli desa, pengelolaan oleh desa akan membuka lapangan kerja yang lebih besar bagi warga setempat.
’’Selama ini ada MoU bagi hasil dengan pemda, tapi kalau dikelola desa kan bisa mempekerjakan warga sendiri, lebih banyak yang bisa kerja di situ,’’ imbuh dia.
Keberadaan Makam Troloyo cukup diandalkan Pemkab Mojokerto untuk menyumbang pendapatan asli daerah dari sektor wisata. Seperti catatan 2023 lalu, Makam Troloyo menghasikan Rp 14 juta selama periode libur akhir tahun. (adi/fen)
Editor : Imron Arlado