Segone anget iwak asin tombo lue
Bojo endi sing akhire ora muntab
Bendinone nggudo tonggo dewe
MUKIYO (nama samaran) benar-benar tidak bisa memposisikan diri sebagai suami yang baik bagi istrinya, Tulkiyem (juga nama samaran). Pria asal Kecamatan Trowulan itu harus beri teladan bagus kepada istrinya. Namun, sikap Mukiyo justru sebaliknya. Dia sering menggoda perempuan-perempuan yang ditemuinya.
Pria 38 tahun itu juga sering melontarkan rayuan maut kepada wanita yang menjadi tetangganya. Anaknya bahkan sampai mengikuti kebiasaan sang ayah. Tulkiyem lama-lama gerah juga. Dia lantas mengajukan gugatan cerai.’’Jenenge wong rabi yo kudune njogo kelakuan. Iki kok pancet ae endel. Sampek aku dewe sing isin,’’ kata Tulkiyem di ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Kelas 1A Mojokerto.
Tulkiyem menceritakan, suaminya itu memang hanya lulusan sekolah menengah (SMP). Namun, menurut Tulkiyem, hal itu seharusnya tidak menjadi alasan bagi Mukiyo untuk berbuat kurang ajar. ’’Mosok gak ngerti ndi sing apik, ndi sing elek,’’ ucapnya.
Selama ini, Mukiyo sering nongkrong di rumah teman maupun warung kopi jika tidak ada pekerjaaan. Mukiyo lantas melontarkan candaan maupun rayuan kepada wanita. Termasuk tetangganya yang lewat. ’’Nek digudo bojoku, mereka kan pasti ngadu ndek aku. Sopo sing gak isin, sampek tak seneni terus bojoku iku,’’ ungkap Tulkiyem.
Dia semakin jengkel, karena Mukiyo selalu mengajari anaknya yang masih SD untuk melakukan hal tersebut. Parahnya lagi, anak mereka diajari memanggil wanita yang digoda dengan sebutan ’’Mama Baru’’. Saking geramnya, Tulkiyem pun dengan tegas mengajukan gugatan cerai pada sang suami. ’’Suwe-suwe kesabaran yo onok batase. Sing keri dewe iki ancen wes garai aku ngamuk. Kudu diakhiri, aku wes pusing karo kelakuane,’’ pungkasnya. (oce/fen)
Editor : Fendy Hermansyah