Sego anget tur punel gae tombo luwe
Kebacut penak bojo nyambut gawe
Sampek lali ngerumat anake dewe
MUKIYO, 40 (nama samaran), merupakan tipe pria pekerja keras. Sama dengan istrinya, Tulkiyem, 35 (juga nama samaran), yang juga workaholic. Alhasil, anak mereka jarang merasakan kehangatan ayah-ibunya karena selama ini dirawat orang tua Mukiyo.
Lama-lama, Mukiyo jenuh juga. Warga Kecamatan Gedeg ini ingin menghabiskan waktu dan hari-harinya bersama sang anak. Maklum, bisnis jual-beli barang yang dijalaninya, membuatnya sering ke luar kota. Termasuk Tulkiyem, yang waktunya lebih banyak kerja kantoran.
Karena itu, ia sudah bertekad ingin lebih banyak waktu di rumah. Selain alasan itu, Mukiyo tak mau orang tuanya direpoti terus. Apalagi, usia orang tuanya kian tua. ’’Mesakno wong tuwoku. Mosok, wes sepuh sek ngemong arek-arek cilik,’’ terangnya.
Namun, keinginan itu tak direspons positif oleh Tulkiyem. Sang istri mengaku sudah enjoy dengan hidupnya yang tidak direpoti anak. Keinginan Mukiyo untuk berkumpul bersama anak-istri justru ditolak. Tulkiyem tetap ingin anak-anaknya dititipkan. Sementara dirinya terlalu asyik berada di kantor.
Menurut Mukiyo, alasan yang dilontarkan istrinya tidak rasional. Istrinya itu blak-blakan mengatakan tidak mau diganggu saat bekerja. Padahal, dengan status ibu ia menginginkan sang istri juga meluangkan waktunya untuk kedua anaknya.
Mukiyo sendiri heran dengan tingkah laku istrinya tersebut. Ia menduga, gara-gara terlalu lama hidup mandiri, membuat Tulkiyem lebih suka tidak berkumpul dengan keluarga. ’’Mosok enak gak kumpul ambek keluarga,’’ imbuhnya.
Akhirnya, karena tidak mendapatkan kata sepakat, ia memilih menceraikan istrinya. Dia tidak ingin orang tuanya dijadikan pembantu dengan mengurus semua perlengkapan kedua anaknya. Terlebih, ia menegaskan jika pembantu sudah cukup untuk mengurus rumah tangga.
’’Aku mung njaluk dekne ngurus omah-omahan, nek kesulitan tak cepakno pembantu. Kurang penak opo,’’ jelasnya. Karena tidak digubris itulah, ia kemudian menjatuhkan talak pada Tulkiyem.
Entah setan apa yang merasuki Tulkiyem, hingga ia mau-mau saja ketika diceraikan. Bahkan, ketika bertemu saat di ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Kelas 1A Mojokerto, keduanya tidak saling menyapa. ’’Wes dalan paling apik diceraikan wae,’’ kata Mukiyo kesal. (oce/fen) Editor : Fendy Hermansyah