Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Serangan Air Keras ke Andrie Yunus, Publik Kembali Ingat Kasus Novel Baswedan

Imron Arlado • Selasa, 17 Maret 2026 | 17:57 WIB
Wakil Koordinator KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) Andrie Yunus.  (Dok. Humas MK/Ifa)
Wakil Koordinator KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) Andrie Yunus. (Dok. Humas MK/Ifa)

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Serangan penyiraman air keras terhadap aktivis HAM Andrie Yunus memicu perhatian luas dari masyarakat. Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis, 12 Maret 2026 sekitar pukul 23.00 WIB, di kawasan Salemba, Jakarta Pusat. Insiden ini tidak hanya menimbulkan keprihatinan publik, tetapi juga mengingatkan kembali masyarakat pada kasus serupa yang pernah menimpa penyidik KPK, Novel Baswedan.

Andrie Yunus yang merupakan Wakil Koordinator KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) dilaporkan diserang oleh dua orang tidak dikenal yang berboncengan sepeda motor.

Saat itu, Andrie baru saja menyelesaikan kegiatan rekaman (podcast) di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI), Jakarta. Dengan membahas isu remiliterisasi dan penegakan hukum di Indonesia.

Baca Juga: Pikap Angkut Tahu vs PCX di Dawarblandong Mojokerto, Bocah 6 Tahun Tewas

Menurut keterangan dari KontraS, serangan terjadi ketika Andrie sedang dalam perjalanan pulang sekitar pukul 23.00 WIB. Dua orang pelaku mendekati korban, kemudian salah satu dari mereka menyiramkan cairan yang diduga air keras ke arah wajah dan tubuh Andrie sebelum melarikan diri.

Akibat serangan tersebut, korban mengalami luka bakar serius pada bagian wajah, dada, tangan, serta area mata.

Andrie Yunus segera dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, untuk mendapatkan penanganan medis.

Baca Juga: Karyawan Asal Mojosari Ditemukan Meninggal di Sungai Brantas

"Dari hasil pemeriksaan, Andrie mengalami luka bakar sebanyak 24%," kata Koordinator Badan Pekerja KontraS, Dimas Bagus Arya.

Peristiwa ini memicu reaksi keras dari berbagai kalangan, terutama organisasi masyarakat sipil dan pegiat HAM. Mereka menilai tindakan tersebut sebagai bentuk intimidasi terhadap aktivis yang selama ini aktif mengkritisi berbagai isu hukum dan kebijakan negara.

Beberapa pihak juga menyoroti kemiripan pola serangan dengan kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan pada tahun 2017. Saat itu, Novel diserang oleh orang tak dikenal setelah pulang dari salat subuh di dekat rumahnya. Kasus tersebut sempat menjadi sorotan nasional karena dinilai sebagai ancaman terhadap upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

Baca Juga: Tanggul Kali Sadar di Mojokerto Jebol, Ratusan Rumah Warga Terendam Banjir saat Sahur

Tim Advokasi untuk Demokrasi menduga pelaku merupakan orang-orang terlatih. Untuk itu, muncul desakan agar kasus ini diusut tuntas hingga aktor intelektualnya dengan membentuk tim investigasi independen mengingat ada pola serupa dengan kasus penyerangan terhadap aktivis sebelumnya.

 

Alghiffari Aqsa dari Tim Advokasi untuk Demokrasi dalam konferensi pers di YLBHI, Jakarta, menyampaikan penyerangan terhadap Andrie ini merupakan operasi percobaan pembunuhan yang terorganisir.

"Kami sangat berharap kasus ini diselesaikan setuntas-tuntasnya hingga aktor intelektualnya. Kami menduga pelakunya sangat sulit kita membayangkan dengan level organisir yang sedemikian rupa ini dilakukan oleh sipil," ujar Alghiffari. SEPTIANA

 

Editor : Imron Arlado
#aktivis #penyiraman air keras #air keras