JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Misteri kematian diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Arya Daru Pangayunan (ADP) kembali disorot.
Orang tua, istri, hingga kuasa hukum ADP mendatangi Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, pada Selasa (30/9/2025), untuk mengikuti rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XIII DPR.
Ayah Arya, Subaryono, mengaku kecewa karena sampai saat ini keluarga tidak mendapat jawaban pasti dari pihak kepolisian.
Menurutnya, berbagai informasi yang muncul di media justru semakin menimbulkan keraguan.
“Belum ada satu keputusan yang jelas apa yang sebenarnya terjadi pada anak kami,” ujarnya di hadapan anggota Komisi XIII.
“Hal-hal yang sudah disampaikan di media memang belum memberikan penjelasan yang jelas.”
Sang istri, Meta Ayu Puspitantri pun mempertanyakan alasan penyidik Polda Metro Jaya menetapkan alat kontrasepsi atau kondom sebagai barang bukti di kasus kematian suaminya.
Baca Juga: Uya Kuya Kembali ke Rumah setelah Penjarahan Akhir Agustus Lalu, Begini Perasaannya
Meta menegaskan kondom yang ditemukan polisi di kamar kos tempat suaminya meninggal merupakan miliknya. Oleh karenanya ia merasa aneh ketika penyidik lebih memilih menjadikannya bukti ketimbang barang lain seperti moda nirawak (drone) hingga sepeda yang ada di kamar kos.
"ltu semuanya punya saya, punya kami, saya juga bingung begitu, kenapa yang dijadikan barang bukti itu? Kenapa bukan drone atau piring atau sepeda yang ada di situ," ujarnya usai menjalani rapat dengar pendapat umum (RDPU) bersama Komisi XIII DPR, Jakarta, Selasa (30/9).
Meta juga menolak keras jika keberadaan kondom itu dikaitkan dengan isu perselingkuhan.
“Itu punya saya. Jadi tidak pantas kalau justru dijadikan bahan spekulasi yang merugikan suami saya,” tegasnya.
Ia menyebut barang seperti kondom dan sandal memang miliknya ketika sedang mengunjungi suaminya di Jakarta.
Baca Juga: Mengatasi Prokrastinasi dengan Membangun Kebiasaan Baru yang Lebih Produktif
“Kami hanya ingin kebenaran. Kami percaya bahwa suatu saat semua akan terungkap,” kata Meta Ayu menutup pernyataannya.
Arya Daru merupakan seorang diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) yang ditemukan tewas di kosan miliknya di Menteng, Jakarta pada 8 Juli 2025 silam. Kematian Arya Daru menjadi sorotan lantaran dirinya tewas dalam kondisi tidak wajar, yakni dengan kondisi kepala terlilit lakban berwarna kuning.
Hingga saat ini, polisi belum menyimpulkan, apakah Arya Daru meninggal karena dibunuh atau bunuh diri. Polda Metro Jaya menegaskan tidak ada DNA selain milik korban yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP).
Polisi juga menyatakan kematian ADP tidak melibatkan pihak lain. Namun, keluarga menilai kesimpulan itu terlalu terburu-buru dan belum menjawab berbagai tanda tanya.
Kematian ADP kian menimbulkan teka-teki setelah muncul sejumlah peristiwa janggal:
- Makam diacak-acak: Makam Arya di Yogyakarta dilaporkan dirusak orang tak dikenal. Bunga-bunga hilang dan ditemukan bunga putih misterius di nisan.
- Amplop misterius: Sehari setelah pemakaman, keluarga menerima amplop berisi styrofoam, bentuk hati, dan bunga kamboja, yang hingga kini tidak jelas asal-usulnya.
- Ponsel hilang: Ponsel Arya belum ditemukan. Padahal, akun WhatsApp miliknya masih menunjukkan aktivitas setelah waktu kematian.
- Jejak CCTV: Rekaman CCTV memperlihatkan Arya sempat berada di Mal Grand Indonesia, lalu naik ke rooftop Gedung Kemlu, sebelum akhirnya kembali ke kos tanpa membawa tas atau barang penting.
Baca Juga: TVRI Pegang Hak Siar Piala Dunia 2026, Tayangan Pertandingan Masih Berbayar atau Gratis?
Fakta-fakta ini memperkuat keyakinan keluarga bahwa penyelidikan belum menyentuh semua aspek yang diperlukan.
Tri Yulia Setyoningrum
Editor : Imron Arlado