Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

DLH Mojokerto Meminta PT Enero Berhenti Beroperasi

Khudori Aliandu • Senin, 3 Februari 2025 | 15:15 WIB
TIMBULKAN BAU BUSUK: Warga melintas di dekat pabrik pengolahan bioetanol PT Enero di Desa Gempolkrep, Kecamatan Gedeg, yang diduga tidak ramah lingkungan.
TIMBULKAN BAU BUSUK: Warga melintas di dekat pabrik pengolahan bioetanol PT Enero di Desa Gempolkrep, Kecamatan Gedeg, yang diduga tidak ramah lingkungan.

Warga Masih Diterpa Bau Busuk, Pabrik Berdalih Habiskan Biogas
KABUPATEN - Bau busuk yang ditimbulkan PT. Energi Agro Nusantara (Enero) mendapat respons tegas Pemkab Mojokerto. Pabrik yang bermukim di Desa Gempolkrep, Kecamatan Gedeg itu diminta berhenti beroperasi dahulu lantaran rentan pencemaran lingkungan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto Zaqqi mengatakan, pihaknya langsung ambil sikap atas bau busuk yang bersumber dari PT Enero. DLH sudah memanggil manajemen perusahaan untuk diakukan klarifikasi atas bau menyengat yang kembali meresahkan dan membuat mual hingga pusing warga. ’’Terkait pencemaran bau, DLH Kabupaten Mojokerto telah memerintahkan kepada PT. Enero untuk segera menghentikan terlebih dahulu kegiatan operasionalnya,’’ ungkapnya.
Permintaan penghentian perusahaan itu dilakukan pemda sejak 27 Januari 2025, hingga akhirnya pada 30 Januari, pihaknya memanggil manajemen perusahaannya. ’’Atas peringatan DLH tersebut, PT. Enero menjelaskan jika bau tersebut terjadi karena adanya kondisi abnormal dalam proses biodigester, sehingga menghasilkan gas CH4 2,5 persen,’’ jelasnya.
Tak urung atas kondisi itu, perusahaan harus melakukan upaya penanggulangan. Di antaranya, menghentikan operational feeding per tanggal 28 Januari dan mengevakuasi liquid yang menghasilkan gas ke plant di Kediri setiap hari. ’’Produksi akan dilakukan kembali jika gas CH4 yang dihasilkan sudah memenuhi ketentuan teknis,’’ tandasnya.
Selain itu, sesuai komitmennya, Enero juga bakal menambah jumlah blower dan flare masing-masing sebanyak satu unit untuk memaksimalkan pembakaran gas. Sementara itu, warga Gempolkrep meminta pemerintah tegas. Tak sekadar diminta berbenah. Pasalnya, bau busuk yang membuat pusing dan mual ini tidak kali ini saja, melainkan sudah sering timbul. Bahkan, terjadi sebelum ledakan pada 2020. ’’Harusnya keberadaan pabrik ini dievaluasi. Memberi asas manfaat atau malah memberi dampak pencemaran lingkungan kepada warga, jangan dibiarkan seperti ini saja,’’ ungkap Tifar warga setempat.
Benar saja, kemarin saja, warga masih diterpa bau busuk menyengat. Kondisi itu membuktikan jika perusahaan masih membandel. Selain tak mengindahkan keluan warga, instruksi pemerintah juga dianggap seperti angin lalu. ’’Hari ini tadi baunya masih parah. Itu artinya apa? komitmen berbenahnya hanya wacana. Kita bingung mau mengadu ke mana lagi? Wong pemda saja dikibuli. Buktinya perusahaan masih beroperasi,’’ bebernya.
Dikonfirmasi terpisah, Humas PT Enero, Misbahul Su’udi, menegaskan pihaknya bakal patuhi arahan DLH. Hanya saja, saat ini produksi tidak lantas langsung bisa dihentikan untuk sementara waktu. ’’Sekarang proses menghabiskan biogas yang tidak terbentuk sempurna, semua sesuai arahan DLH,’’ ungkapnya.
Sebelumnya Enero mengakui bau busuk yang belakangan membuat warga resah berasal dari tempat produksi Bahan Bakar Nabati (BBN) E5. Kendati begitu, perusahaan memastikan peralatan produksi dalam kondisi prima dan tidak terdapat kerusakan. ’’Terhadap bau yang timbul telah ditemukan yang mana disebabkan oleh belum sempurnanya terbentuknya biogas utamanya kandungan metana (CH4) yang harus dibakar secara sempurna,’’ ungkapnya. (ori/fen)

Editor : Hendra Junaedi
#Pemkab Mojokerto #bau busuk #limbah pabrik #Enero